Kain Tenun Lurik Ayu Kemuning Tantang Eksistensi Pakaian Barat di Jawa

  Rabu, 09 Juni 2021   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Motif Kain Tenun Lurik Ayu Kemuning (Dok Ayu Kemuning)

AYOYOGYA.COM -- Masyarakat selalu menggandrungi fesyen atau gaya berpakaian dari masa ke masa.

Selain untuk menutupi tubuh, pakaian juga difungsikan dalam hal menarik lawan jenis, bahkan berintegrasi dengan mistis. Selain batik yang diakui keberadaannya oleh UNESCO pada tanggal 2 Oktober 2009 sebagai warisan budaya di Indonesias, salah satu ciri khas pakaian masyarakat Jawa, khususnya daerah Vorstenlanden (Yogyakarta dan Surakarta) adalah Kain Tenun Lurik. Kain ini mampu menembus waktu sampai sekarang masih eksis keberadaannya. 

Kain Tenun Lurik merupakan warisan dari zaman Kerajaan Mataram hingga masa Sultan Hamengkubuwono I kain tersebut berkembang pesat di lingkungan keraton. Hal tersebut sudah di atur dalam angger-angger (undang-undang) oleh Keraton. Semua orang khususnya kawula alit (rakyat kecil) tidak dapat menggunakan semua motif, karena adanya larangan sehingga hanya bisa dipakai oleh Raja dan para kerabatnya. Kain Tenun Lurik difungsikan untuk acara-acara tertentu saja, seperti mitoni (upacara 7 bulan kehamilan), kain lurik dikeluarkan dari almari kemudian dikenakan sebagai tradisi. Kain yang digunakan adalah kain lurik bermotif yuyu sekandhang, liwatan, gedhog madu. Meskipun berbeda motif tetapi memiliki tujuan yang sama. Seperti yang terjadi di daerah Vorstenlanden, Yogyakarta menggunakan motif gedhog, sedangkan di Surakarta dengan motif liwatan. Secara bentuk motif maupun nama kain sudah berbeda, namun memiliki tujuan yang sama yaitu keselamatan. Motif kain tenun lurik sangat beragam bahkan setiap motif pasti memiliki filosofi sebagai pedoman dalam kehidupan orang Jawa atau njawani. Karena kain tersebut bercengkrama erat dengan adat istiadat/budaya Jawa, maka kain lurik menjadi bernilai hingga ada yang mengkeramatkan.

Seiring berjalannya waktu hingga masa kontemporer, gaya pakaian dari luar negeri mudah untuk mencuci mata manusia. Hal tersebut mengancam eksistensi kain tenun lurik. Namun tak heran, kain tenun lurik berani menantang gaya pakaian "pendatang". Pada kesempatan ini, Ayu Kemuning merupakan produsen Kain Tenun lurik yang masih bertahan ampuh di Kota Solo, menghadirkan produk kain yang bisa di pakai oleh semua kalangan. 

Produk Kain Tenun Lurik dari Ayu Kemuning memiliki ciri khas tersendiri di antaranya memiliki beragam macam motif kain lurik, perpaduan warna dan motif yang kuat, serta tekstur kain yang padat dan di samping itu juga terdapat list kain yang itu menjadi khas tersendiri. Kain Tenun Lurik Ayu merupakan brand yang telah berdiri sejak 5 tahun yang lalu, dan telah memiliki cakupan pasar penjualan yang luas. Promosi dan penjualan dilakukan melalui platform media sosial seperti Instagram dan WhatsApp. Melalui offline store juga bisa langsung datang ke Pasar Klewer. Kehadiran produk Kain Tenun Lurik yang satu-satunya masih bisa di jumpai di Kota Solo dan produksi dengan masih tetap menggunakan mesin tradisional kain tenun. Proses pembuatannya membutuhkan waktu kurang lebih selama satu bulan, tergantung dari jumlah pesanan yang di terima. 

Di tengah gerusan globalisasi, semangat Ayu Kemuning tidak padam untuk selalu menghidupkan budaya Jawa-nya. Meskipun dalam tahap pemasaran harus memanfaatkan budaya dari Barat, namun hal tersebut tidak akan mempengaruhi nilai dari Kain Tenun Lurik yang disediakan oleh Ayu. Akun instagram @theayukemuning menghadirkan motif-motif kain tenun lurik yang anggun bahkan tidak kalah jika didekatkan dengan pakaian impor dari Barat. Hal tersebut menjadi penting untuk generasi sekarang khususnya dalam mencintai produk lokal. Budaya tidak akan padam jika selalu dirawat dan dijaga, berbeda dengan sikap welcome kepada budaya lain maka budaya Jawa akan sama seperti uap, lama-lama akan kandas. 

 

*) Mahasiswa FKIP Sejarah UNS, Yoggi Bagus Christianto

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar