Peneliti Coba Bongkar Misteri 'Laba-Laba' di Mars

  Kamis, 08 April 2021   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Siulet 'laba-laba' yang ditemukan di Mars (NASA)

AYOYOGYA.COM -- Planet Mars masih penuh dengan misteri bagi umat manusia.

Meski pesawat ruang angkasa probe dan penjelajah lainnya telah mengunjungi planet ini, namun terdapat banyak rahasia yang mungkin tidak diketahui.

Dilansir The Weather Network dan Republika.co.id, Rabu (7/4/2021) penelitian terbaru yang dilakukan sejumlah ilmuwan membuka salah satu misteri yang tersimpan di Mars. Selama beberapa tahun, formasi aneh berbentuk seperti laba-laba terlihat di permukaan Planet Merah itu dari orbit.

Laba-laba ini disebut sebagai araneiform oleh para ilmuwan. Lokasinya terletak di dekat kutub selatan Mars dan telah menimbulkan teori bahwa pembentukan formasi ini dipengaruhi oleh kondisi musiman planet itu.

Para ilmuwan menggunakan laboratorium khusus yang dirancang untuk menyimulasikan kondisi permukaan Mars dalam penelitian terbaru. Tim dari Irlanda kemudian mengkonfirmasi struktur terbentuk ketika karbon dioksida beku, atau juga disebut sebagai dry ice (es kering) bertemu dengan permukaan tanah planet yang lebih hangat.

Tidak seperti air es, karbon dioksida biasanya tidak 'meleleh', dalam arti berubah menjadi bentuk cair. Sebaliknya, ia berpindah langsung dari padat ke gas, sebuah proses yang dikenal sebagai sublimasi.

Dalam kasus laba-laba Mars tersebut, para ilmuwan berhipotesis bahwa ketika sinar Matahari menghantam es CO2 Mars, kemudian memanaskan tanah di bawahnya, menyebabkan es di pangkalan menyublim, perlahan-lahan membangun tekanan hingga es retak. Pada saat itu, gas yang menumpuk keluar, dengan kekuatan yang mengikis pola keropos di pasir.

Namun, belum ada bukti jelas hingga studi yang dilakukan melibatkan pembangunan ruang khusus yang dapat disegel dan diberi tekanan agar sesuai dengan tingkat suhu Mars dan atmosfer yang sangat tipis. Para ilmuwan menurunkan balok es kering dengan lubang yang dibor di dalamnya dan mempelajari pelepasan gas sublimasi, mencatat pola yang tertinggal di tanah di bawahnya, yang mirip dengan yang diamati di Mars dari orbit.

“Ini menarik karena kami mulai memahami lebih banyak tentang bagaimana permukaan Mars berubah secara musiman,” ujar Lauren McKeown, ketua tim peneliti dari Universitas Trinity.

Para peneliti mengatakan metode mereka dapat digunakan untuk mempelajari efek geomorfik lain dari sublimasi es kering di Mars. Bahkan ini juga bisa memberikan pengetahuan lebih lanjut di bagian tata surya lain seperti Enceladus atau Europa, dengan sedikit atau tanpa atmosfer.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar