Industri Film Pincang, 1.000 Pelaku Sinema Jogja Divaksin

  Rabu, 07 April 2021   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Pelaku perfilman Jogja divaksin di JEC, Rabu (7/4/2021). [Suara.com / Putu Ayu Palupi]

YOGYAKARTA, AYOYOGYA.COM -- Industri perfilman di DIY tak bisa berproduksi lantaran pandemi Covid-19.

Lebih dari 1.000 pelaku perfilman terancam tak bisa bekerja karena dunia perfilman di kota ini pun bisa kolaps.

Sebab setelah tutupnya bioskop di berbagai kota, produksi film pun berhenti. Bila tidak segera diselesaikan, maka kemungkinan ada lebih dari 100 ribu pelaku industri film di Indonesia yang terdiri dari kru, ekstras, karyawan bioskop dan lainnya yang kehilangan pekerjaan atau tidak mendapatkan penghasilan layak.

"Sejak bioskop tutup, lalu buka tapi sepi. Industri film memang kolaps. Banyak produser menahan film dan tidak tayang di bioskop karena menghitung risiko pandemi dan ekonomi. Beberapa produksi yang sudah terlanjur persiapan menunda produksinya atau tetap melanjutkan produksi dengan mengubah konsep kreatif menyesuaikan keadaan," ungkap sutradara Hanung Bramantyo di sela vaksinasi 1.000 pelaku perfilman DIY di Jogja Expo Center (JEC), Rabu (7/3/2021).

Karenanya Hanung yang bergabung dalam Paguyuban Filmmaker bersama Suluh Pamuji selaku Ketua Jogja Film Commission meminta Dinas Kesehatan DIY memberikan jatah vaksinasi bagi pelaku perfilman di DIY. Dari data yang berhasil dihimpun panitia, tak kurang 1.000 pelaku perfilman menyatakan siap divaksin.

Hanung kebetulan pada awal Maret 2021 lalu bertemu dengan Presiden Joko Widodo dan Gubernur DIY Sri Sultan HB X di acara vaksin massal seniman dan budayawan yang diselenggarakan pemerintah pusat di Padepokan Seni Bagong Kusudiarjo.

"Dalam kesempatan itu saya menyampaikan ada lebih dari 1.000 pekerja film di Jogja yang sangat mengharapkan vaksin dan ternyata para penggagas kompak bergerak cepat,” ungkapnya, dilansir dari Suara.com--jaringan Ayoyogya.com.

Sementara, Suluh mengungkapkan, Yogyakarta merupakan daerah yang menjanjikan bagi perkembangan industri perfilman di Indonesia. Bahkan sejak lima tahun belakangan produksi film semakin ramai, distribusi serta ekshibisi film semakin beragam saluran dan ruang.

Apresiasi, edukasi maupun pengarsipan film menjadi bidang yang semakin serius dikembangkan. Sehingga ekosistem perfilman Jogja berjalan dan berkembang, sebagai mata rantai sekaligus daur hidup perfilman.

"Namun, sejak pandemi, ekosistem berjalan pincang dan mengalami hambatan," ujarnya.

Karena itu vaksinasi kali ini diharapkan dapat kembali menyehatkan ekosistem perfilman di Yogyakarta. Sebab penularan COVID-19 pun bisa diminimalisir melalui vaksinasi tersebut.

Filmmaker sekaligus PIC vaksinasi, DS Nugraheni, menambahkan, untuk lingkup Yogyakarta, jumlah pelaku perfilmannya ternyata signifikan dan beragam. Dalam vaksinasi kali ini, 1.000 pelaku film dibagi menjadi tiga kelompok dengan jam kedatangan yang berbeda.

"Tujuannya untuk meminimalisir kerumunan. Seribu bukan jumlah yang sedikit,” imbuhnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar