Manis Pahit Jadi Perawat di Jogja Kala Pandemi

  Rabu, 07 April 2021   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Ilustrasi tenaga medis. [Paolo Miranda/BBC via Suara.com]

YOGYAKARTA, AYOYOGYA.COM -- Kisah para tenaga medis di tengah pandemi bertebaran di media sosial.

Sebagai tenaga medis dan kesehatan, mereka harus mengeluarkan tenaga dan komitmen lebih besar dalam merawat pasien di tengah terpaan pandemi COVID-19. Termasuk perawat yang bekerja di Jogja. 

Beragam pengalaman dan perlakuan mereka dapatkan yang berbeda dengan ketika mereka menjalankan tugas sehari-hari. Hal itu bukan hanya dialami oleh perawat yang berhadapan langsung dengan pasien COVID-19, melainkan juga perawat yang tak menangani pasien COVID-19.

Misalnya saja seperti dituturkan oleh Zefanya Tan. Punya jam terbang menjadi perawat selama tujuh tahun lamanya, Zefanya mengungkapkan banyak hal yang berubah selama satu tahun belakangan.

Tak jarang, ia melihat tatapan mata dan sikap orang-orang yang seakan tidak nyaman berdekatan dengan dirinya.

"Kalau orang sekitar jadi insecure. Kayak orang dekat sama aku udah parno (paranoid) duluan. Tapi kalau intimidasi tidak ada," ungkapnya, saat dihubungi, Rabu (7/4/2021).

Ia juga memaparkan, COVID-19 membawa banyak perubahan dalam kehidupan di RS. Kini, ia dan rekan-rekannya harus mengenakan alat pelindung diri saat bekerja. Bahkan, topi dan masker tak boleh dilepas, mereka harus jaga jarak satu sama lain.

Bukan hanya itu, ada protokol yang sangat ketat dan mereka harus amat berhati-hati kala berhadapan dengan pasien.

Stres

Meskipun tidak melayani dan merawat langsung pasien COVID-19, Zefanya sempat merasakan stres dan ketakutan saat bekerja.

Apalagi ketika ada pasien yang dirawatnya kemudian dinyatakan positif COVID-19, perasaan semakin takut bahwa dirinya tertular, semakin membuncah.

"Apalagi kalau pas sedang pakai masker satu lapis, tahu-tahu pasien dinyatakan COVID-19, itu ngeri-ngeri gimana," kata perawat sebuah RS swasta di Jogja itu, dilansir dari Suara.com--jaringan Ayoyogya.com.

Zefanya mengungkapkan, dalam bekerja ia terus meluruskan niat tulusnya. Karena sekalipun bila ia tertular, maka kondisi itu merupakan risiko yang harus ia hadapi, sejak awal memutuskan menjadi tenaga medis.

"Puji Tuhan, selama ini Tuhan lindungi," ucap Zefanya.

Jarang Pulang

Pandemi juga memaksanya untuk mengendapkan rasa rindu pada keluarganya yang berada di Wonosobo, nun di Jawa Tengah sana.

Dalam situasi normal, ia bisa pulang ke Wonosobo beberapa kali dalam sebulan. Namun karena masa pandemi, kondisinya tak menentu. Kata Zefanya, ibarat bisa pulang sekali dalam enam bulan sekali sudah bisa disyukuri. Pandemi seolah membuat batas-batas dan pernah membuatnya harus legowo menelan keputusan tak mudik setengah tahun.

Pandemi tak hanya membuatnya melihat kesusahan dan pembelajaran menerima. Tetapi juga membangun Zefanya menjadi diri yang bisa mengambil hikmah dari pandemi. Karena bukan hanya diberi kesehatan, tetapi juga bisa merawat orang lain.

Di akhir obrolan, ia berdoa semoga pandemi segera berakhir. Kehidupan berjalan normal, perekonomian pulih dan semua lini kehidupan berjalan sebagaimana sebelumnya.

Tak jauh berbeda, Christine Kusuma juga sempat melihat sejumlah keluarga pasien takut saat melihat dirinya.

"Tapi tidak semua," kata dia.

Beruntung, Christine tinggal di kampung yang dihuni oleh orang-orang yang saling menghargai. Sehingga ia tak merasakan 'terusir', karena dicap sebagai pembawa virus corona.

"Pulang kerja ya saya langsung di rumah saja, tidak keluar-keluar. Jadi ya kadang sadar diri saja, saling menghormati," ungkap ibu muda yang belum lama melahirkan anaknya ini.

Kemanusiaan

Christine punya alasan tersendiri bahkan merasa bangga dirinya terpanggil menjadi perawat. Di benaknya, perawat adalah profesi yang mengedepankan misi kemanusiaan.

"Seorang perawat merupakan profesi yang bermanfaat, memiliki intelegensi yang baik. Perawat mempunyai komunikasi yang baik ke semua pasien dan merupakan panggilan hati," ungkapnya.

Seperti profesi lain pada umumnya, menjadi perawat ada tantangannya. Misalnya, beradaptasi di semua keadaan pasien yang mempunyai karakter berbeda-beda. Serta menjaga diri untuk memiliki daya tahan fisik yang baik, agar terhindar dari penyakit menular.

Semangat kuat dari pasien untuk sehat dan beraktivitas seperti sedia kala, faktanya menjadi api motivasi yang menyala bagi Christine.

"Itu yang memacu kami untuk semangat juga dalam membantu pemulihan," kata dia.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar