Pasutri di Sleman Apresiasi Nakes dengan Berbagi Pempek

  Senin, 22 Februari 2021   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Pasangan suami istri, Budi Prihatini dan Yuda Asta Birawa, sedang menyiapkan pempek untuk para nakes di rumahnya, yang berada di Jalan Kadirejo, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Senin (22/2/2021). - (SuaraJogja.id/Hiskia Andika)

SLEMAN, AYOYOGYA.COM — Masyarakat melakukan berbagai cara untuk menebar kebaikan di masa sulit pandemi Covid-19.

Tenaga kesehatan, sebagai garda terdepan dalam penanganan Covid-19, tidak jarang mendapatkan apresiasi lebih untuk lebih menambah semangat dalam melaksanakan tugasnya.

Itu yang dilakukan oleh pasangan suami istri, Budi Prihatini (56) dan Yuda Asta Birawa (57) yang berada di Jalan Kadirejo, Purwomartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman. Bukan dengan uang atau karangan bunga besar yang menghiasi pelataran rumah sakit mereka memberikan apresiasi kepada nakes, mereka mengapresiasi nakes dengan makanan khas Palembang, yakni pempek.

Makanan yang terbuat dari daging ikan yang digiling lembut dan dicampur tepung kanji atau tepung sagu serta bahan lain itu menjadi cara pasutri tersebut menunjukkan apresiasi lebih kepada kinerja para nakes.

"Jujur awalnya, justru ide ini dari seorang ibu-ibu yang baik saat pesen pempek ke kami. Saat sudah waktunya untuk diambil tapi malah minta untuk dikirimkan saja ke salah satu rumah sakit yang ada di Jogja dan minta tolong untuk diberi tulisan yang intinya untuk nakes," kata Prihatini saat ditemui di rumahnya, Senin (22/2/2021).

Setelah itu, Prihatini dibantu dengan anaknya mengunggah hubungan foto penerimaan pempek kiriman dari sang ibu tadi kepada nakes. Postingan atau unggahan foto itu seolah merupakan pertanggungjawaban pihaknya ke dermawan yang sudah berinisiatif memberikan pempek tadi.

Berawal dari postingan itu ternyata dilihat oleh beberapa orang dan direspons positif. Artinya mulai banyak orang yang justru melakukan hal serupa sebagai bentuk apresiasi kepada nakes.

"Namun di sisi lain pun, kami merasa bahwa mengirim makanan ke rumah sakit itu adalah ide yang bagus. Jadi kami pun juga teruskan," ucapnya.

Prihatini menjelaskan bahwa langkah baik itu diteruskan dengan menambah jumlah pempek yang dipesan atau yang ditujukan kepada nakes. Semisal ada dermawan yang ingin memberikan pempek ke nakes tapi dirasa jumlah yang diberikan masih terlalu kecil maka pihaknya akan menambah jumlahnya.

Jika dulu diawali dengan pesanan dari pembeli yang berbaik hati, kini Prihatini dan sang suami mulai melakukan itu dengan kesadaran dan keinginan diri sendiri. Meskipun hingga kini pemesanan itu tetap berasal dari masyarakat yang memang sengaja ingin berbagi dengan sesama.

"Waktu kita ngasih pun juga tidak kita bilang ini dari pempek samsar, tapi ditulisi dari orang baik. Tidak pernah sebut siapa yang mengirimkan. Itu berkelanjutan sampai sekarang, justru semakin banyak. Sampai hari ini pun masih ada daftar tunggu rumah sakit yang kami akan kirim pempek," terangnya.

Kegiatan baik yang sudah berlangsung sejak awal pandemi Covid-19 atau tepatnya April 2020 silam, mulai terasa ramai ketika memasuki bulan puasa tahun lalu. Pihaknya sendiri tidak menentukan jumlah pempek yang akan dikirim secara pasti kepada nakes di rumah sakit.

"Menyesuaikan jumlah nakes saja misal di puskesmas yang nakes tidak terlalu banyak ya sekitar 15-20 paket saja. Nanti kalau di rumah sakit besar bisa mencapai 30 paket," imbuhnya.

Menurutnya, nakes yang masih bertugas di masa-masa pandemi Covid-19 ini adalah garda terdepan dalam menyehatkan masyarakat Indonesia. Nakes merupakan pekerjaan yang berjasa di masa sulit sekarang ini.

"Beliau-beliau (nakes) yang berjuang untuk Indonesia sehat. Demi untuk memerangai pandemi, mereka yang berada paling depan dan paling berjasa. Jadi ya langkah baik ini akan terus kami lakukan," tegasnya.

Sang suami, Yuda Asta Birawa (57), menyampaikan bahwa mereka berdua bisa menghabiskan rata-rata 50 kilogram ikan perhari untuk membuat pempek. Namun hal itu tergantung dengan ketersediaan ikan yang ada.

"Kalau masa-masa sepi ikan misal cuaca tidak mendukunv dan gelombang tinggi ya paling 20 kilogram ikan saja, kalau masa bagus itu bisa sampai 50 kilogram," ujar Yuda.

Yuda tidak menampik bahwa kegiatan ini memang diawali oleh salah seorang pembeli yang justru berbuat dermawan dengan memberikan pembeliannya untuk para nakes. Namun lama kelamaan kegiatan itu mengalir begitu saja dengan.

"Jadi kita juga tergerak untuk melakukan hal serupa. Makin lama makin ngalir gitu aja. Tidak direncanakan sebelumnya," tambahnya.

Menurut Yuda, memang sudah sepantasnya para nakes yang telah berjuang tenaga dan pikiran menangani pasien Covid-19 diberikan sebuah penghargaan atau paling tidak apresiasi positif.

Saat disinggung, mengenai pilihan membuat pempek, kata Yuda, sebab ia sebagai orang Palembang lebih bisa membuat makanan khas daerahnya tersebut. Sempat ada ide untuk membuat gudeg namun ia yang tidak terlalu paham tentang makanan khas Jogja itu.

"Saya berpikir, kita harus mengerjakan apa yang kita suka. Nah, saya suka makan. Kebetulan orang Palembang ya bikin pempek. Istri saya dulu bikin gudeg, saya sebagai yang ikut quality control atau yang merasakan kurang pasti merasakan gudeg yang pas itu gimana. Jadi kalau pempek saya tahu. Jadi ya sudahlah bikin pempek dan anak-anak juga suka," ungkapnya.

Hingga kini diakui Yuda, pesanan itu terus berjalan. Mulai dari para dermawan yang masih selalu memberikan sedikit rezekinya untuk para nakes hingga ia dan istrinya sendiri yang ikut memberi pempek.

"Toh mereka juga layak diperhatikan karena sebagai salah satu ujung tombak (dalam penanganan Covid-19). Saya bisanya membantu ya gini. Kalau kue mungkin bos bakery yang lain sudah ngasih ya, jadi kita bisa produk pempek ya ini yang kita kasih," pungkasnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar