Sejarah dan Mitos Unik Taman Sari Yogyakarta

  Minggu, 21 Februari 2021   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Taman Sari, Daerah Istimewa Yogyakarta. (Shutterstock)

KOTA YOGYAKARTA, AYOYOGYA.COM — Malioboro telah menjadi ikon pariwisata Kota Yogyakarta sejak lama.

Namun, di era digital saat ini, ketika foto-foto "instagramable" menjadi bentuk kenangan yang paling layak dipamerkan kala berwisata, Taman Sari Yogyakarta merupakan destinasi idaman wisatawan.

Kendati begitu, bukan saja lokasinya yang begitu "nyeni" dan memanjakan mata, objek wisata Taman Sari juga menyimpan sejarah yang memikat untuk digali.

Seperti penampakannya, Taman Sari, yang masih menjadi bagian dari Keraton Yogyakarta, memiliki arti "taman yang indah".

Lambang kejayaan Raja Mataram yang juga kerap disebut sebagai "istana air" ini dibangun pada 1758 Masehi oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Yang paling populer diketahui masyarakat umum, Taman Sari memiliki Umbul Pasiraman atau Umbul Binangun, yang dulunya dijadikan kolam pemandian untuk Sultan, permaisuri, selir, dan putri raja.

Dulunya, Taman Sari dikelilingi danau buatan dan dilengkapi bunga-bunga sebagai wewangian yang ditanam di sekitar area pemandian kerajaan ini.

Bukan itu saja, menariknya, dahulu kala, Taman Sari Yogyakarta juga memiliki fungsi sebagai tempat perlindungan untuk persenjataan.

Selain itu, salah satu bagian yang paling diminati wisatawan dari Taman Sari adalah Pulo Kenanga atau Pulo Cemeti karena dari situ, pengunjung bisa menyaksikan Kota Yogyakarta. Dulunya, untuk menuju Pulo Cemeti, keluarga kerajaan perlu menaiki perahu terlebih dahulu.

Namun, dilansir dari Guideku.com dan SuaraJogja.id, sejak 2009, dengan alasan keselamatan pengunjung, akses menuju bagian atas Pulo Cemeti ditutup.

Di bagian barat Pulo Cemeti, ada Pulo Panembung dan Sumur Gemuling, yang dulunya digunakan sebagai tempat meditasi Sultan.

Sumur Gemuling dahulu berfungsi sebagai masjid, dan jalan menuju ke sana berupa terowongan bawah air, alias urung-urung.

Mitos pun beredar di kalangan warga soal lorong Sumur Gemuling ini. Konon, sebelum dipugar pada 1972, lorong tersebut bisa tembus sampai Pantai Laut Selatan dan menjadi akses pertemuan antara Sultan dengan Ratu Pantai Selatan, Kanjeng Ratu Kidul.

Menurut pengawas Taman Sari, dikutip dari Solopos.com, Sri Sultan HB I sebenarnya sengaja membangun Keraton dengan posisi terhubung dengan Gunung Merapi dan Pantai Parangtritis dalam satu sumbu lurus imajiner. Harapnnya, ketiga titik itu bisa saling bersinergi.

Di dalam Sumur Gemuling sendiri ada dua lantai. Masing-masing punya ceruk sebagai tempat imam memimpin ibadah, atau mihrab.

Terdapat empat tangga undakan di pusat bagunan bekas masjid ini, yang bertemu di bagian tengah dan kini sering bermunculan di media sosial untuk lokasi foto ikonik wisatawan Taman Sari Jogja.

Alamat Taman Sari Jogja ada di Jalan Tamanan, Patehan, Kraton, Kota Yogyakarta. Objek wisata ini dibuka setiap hari mulai pukul 09.00 sampai 15.00 WIB.

Namun di awal masa pandemi Covid-19, kawasan wisata Keraton Yogyakarta, termasuk Taman Sari, sempat ditutup.

Meski kemudian dibuka kembali, Taman Sari Jogja kemudian menerapkan protokol (prokes) yang cukup ketat.

"Area Taman Sari berada di tengah-tengah warga, sehingga bisa jadi klaster baru yang bisa cepat merembet karena dekat rumah warga yang intens. Karenanya, Keraton harus ketat protokolnya, apalagi banyak abdi dalem yang sudah berumur 60 tahun ke atas yang berisiko terkena Covid-19," terang Penghageng Nityanudaya Keraton Yogyakarta GKR Bendara, Rabu (12/8/2020).

Pihak Keraton bersama sejumlah stakeholders menyediakan fasilitas cuci tangan di sejumlah titik kawasan wisata Keraton.

Selain itu, pihaknya juga memberlakukan sistem e-ticketing untuk meminimalisasi kerumunan dan membentuk gugus tugas yang secara khusus melakukan patroli terus menerus untuk mengawasi wisatawan.

Jika pengunjung mengabaikan prokes, maka mereka harus siap-siap untuk diusir petugas, demi keselamatan dan kenyamanan bersama.

Berikut rincian tiket masuk Taman Sari:

Wisatawan domestik: Rp5.000 per orang
Wisatawan asing: Rp15.000 per orang
Izin foto atau video menggunakan kamera: Rp3.000 per orang
Foto prewedding wisatawan asing: Rp500.000
Foto sesi wisatawan asing: Rp300.000
Foto produk wisatawan asing: Rp500.000
Foto prewedding wisatawan lokal: Rp250.000
Foto sesi wisatawan lokal: Rp150.000
Foto produk wisatawan lokal: Rp500.000

Catatan redaksi: harga bisa berubah.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar