TBY Destinasi Wisata Para Pecinta Seni

  Senin, 07 Desember 2020   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Mapping di Taman Budaya Yogyakarta (Jogja Video Mapping Official Site)

KOTA YOGYAKARTA, AYOYOGYA.COM -- Keberadaan vaksin Covid-19 yang akan didistribusikan ke seluruh penjuru Tanah Air diharapkan segera menggerakkan kembali perekonomian di lokasi wisata.

Saat ini, penerapan protokol kesehatan yang ketat di sejumlah tujuan wisata juga bisa menjadi penenang bagi siapapun yang berkunjung khususnya ke destinasi wisata pendidikan dan budaya.

Seperti di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Tempat ini dikenal sebagai etalase dan tamannya seni dan budaya Yogyakarta. Adapun di tempat ini, pengunjung dapat melihat kegiatan para seniman dan berbagai aktivitasnya termasuk perhelatan festival kesenian setiap tahun.

Keberadaannya bukan saja menjadi lokasi menemukan dan mengenali atraksi seni dan budaya tetapi juga melengkapi amenitas wisata MICE (meeting, incentive, convention, dan exhibition) di Yogyakarta.

Direktur Wisata Pertemuan, Insentif, Konvensi, & Pameran (MICE) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Iyung Masruroh, mengatakan, dibangun tahun 1977, TBY awalnya dibuat sebagai sarana dan prasarana untuk membina, memelihara, dan mengembangkan kebudayaan Yogyakarta.

Kini, TBY memperkaya visi dan misinya sebagai kantung kebudayaan dan menjadi salah satu laboratorium seni di Indonesia. Itu karena TBY telah melakukan pengumpulan data dan dokumentasi seni budaya, naskah cerita atau lakon, rekaman profil seniman atau budayawan, rekaman peristiwa seni budaya, serta berbagai koleksi karya seni rupa (lukis, grafis, patung, kriya seni, dan kerajinan).

Secara khusus, kata dia, TBY juga kini mengenalkan dunia seni rupa (biennale seni rupa), dunia media rekam (pemutaran film sepanjang tahun), dunia seni pertunjukan (festival teater, ketoprak, dalang, tari, dan lainnya), program-program pendidikan (bimbingan dan pelatihan seni untuk anak dan remaja), serta penerbitan profil seniman budayawan, antologi sastra, kritik seni rupa, dan lainnya.

"Taman Budaya Yogyakarta seolah jendela bagi wisatawan untuk melihat keseluruhan budaya Yogyakarta. Di sini, Anda dapat melihat dokumentasi, hasil karya seni, pertunjukan seni, dan banyak hal lainnya terkait perkembangan budaya Yogyakarta. Taman budaya-nya buka setiap hari, sementara untuk pertunjukan khusus waktunya menyesuaikan jadwal," kata dia, Senin (7/12/2020).

TBY memiliki gedung dengan arsitektur Belanda dengan pilar-pilar yang membuatnya tampak megah. Bangunannya sendiri luas dan besar dengan cat putih bersih. Tersedia ruang pemaren yang dapat dimanfaatkan untuk memamerkan karya seni. Ada juga perpustakaan yang dapat diakses secara umum.

Ada dua bangunan utama di TBY, yaitu Concert Hall Taman Budaya dan Societet Militair. Gedung Concert Hall yang bergaya Belanda difungsikan sebagai tempat diskusi sastra, penyelenggaraan pameran, dan pelatihan. Sementara gedung Societet Militair khusus untuk keperluan pementasan teater, tari, musik, dan pertunjukan seni lainnya.

Panggung terbuka tersedia di halamannya luas dimana sering menjadi tempat menggelar pertunjukan atau pameran. panggung terbuka memiliki kapasitas tampung yang besar. Di sini terdapat panggung dengan tata lampu yang memadai. Taman TBY tersedia di beberapa tempat baik di dalam maupun luar gedungnya. Tempat itulah yang sering digunakan sebagai lokasi pagelaran budaya dan pameran. Tersedia fasilitas concert hall, gedung kesenian, amphiteater, dan ruang seminar. Di bagian luar gedung ada panggung terbuka dimana biasa digunakan untuk acara musik.

"Concert Hall tersedia di di lantai dua dengan fasilitas ruang rias, ruang tunggu pemain, lobi, ruang stem alat musik. Selain itu ada juga ruang VIP, tata lampu, tata suara, dan AC sentral. Luas concert hall ini memiliki luas panggung 18,80 meter x 14,80 meter dengan kapasitas penonton 900 orang," papar dia

Societet Militair melengkapi concert hall dengan kapasitas lebih kecil. Luas panggungnya 10 x 8 meter berkapasitas 300 orang. Ruangan ini dilengkapi pula dengan ruang rias, level, lobi, AC sentral, tata lampu, dan tata suara yang memadai.

Amphiteater berada di ruangan terbuka dengan luas panggung 10 x 10 meter dengan kapasitas penonton sebanyak 200 orang. Ruangan ini dibuat menggunakan batu semen, dengan tempat duduk yang langsung dari semen tanpa alas.

Ruang pameran, kerap kali digunakan sebagai ruang pameran seni lukis atau kesenian lainnya. Terkadang, sang seniman juga berada di lokasi sehingga pengunjung dapat bertanya mengenai karya seninya. Lokasinya berada di lantai satu, dengan luas 35 x 28 meter dilengkap panel, spotlights, dan AC sentral, serta daya listrik 10.000 watt.

"Ruang seminar, dapat dimanfaatkan untuk menggelar diskusi atau pertemuan. Ruang seminar ini termasuk dalam bagian bangunan concert hall dan ruang pameran seni rupa. Terkadang diadakan pemutaran film, workshop, atau pembacaan puisi. Ruangannya memiliki luas 18 x 16 meter. Dilengkapi 60 kursi, 2 meja pembicara dan moderator, 6 speaker, dan AC," kata dia.

Taman Budaya Yogyakarta berlokasi di kawasan Yogyakarta Titik Nol Kilometer, tepatnya di Jalan Sriwedani di Kawasan Malioboro dan Keraton. Lokasinya juga tidak jauh dari Pasar Beringharjo, tepatnya di belakang kompleks Benteng Vredeburg. Sangat mudah bagi Anda mencapainya baik menggunakan kendaraan umum seperti Trans Yogyakarta maupun kendaraan pribadi. Taman Budaya Yogyakarta selalu diramaikan berbagai kegiatan seniman Yogyakarta.

"Harga tiket dapat mengalami perubahan sewaktu-waktu terutama pada musim liburan dan lebaran karenanya dapat menghubungi pihak terkait," kata Iyung.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar