Stay at Home Berdampak Pada Kesehatan Mental dan Solidaritas Sosial

  Sabtu, 28 November 2020   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Ilustrasi jaga jarak. (Ayobandung.com)

AYOYOGYA.COM – Virus corona menular melalui droplet yang dikeluarkan oleh pasien positif COVID-19 saat batuk, bersin, atau hembusan napas.

Virus ini merebak pertama kali di Wuhan, China. COVID-19, penyakit yang disebabkan oleh virus corona ini dapat menyebabkan kematian dengan gejala-gejala umumnya, yaitu demam, batuk, sesak napas, dan kelelahan. Adapun gejala lainnya seperti nyeri tenggorokan, diare, sakit kepala, dan hilangnya indera penciuman.

COVID-19 saat ini sudah menyebar hampir ke seluruh penjuru dunia seperti Asia, Amerika, Eropa, Afrika dan Australia. Tercatat sudah jutaan orang di berbagai belahan dunia meninggal karena penyakit ini.

World Health Organization (WHO) pun telah menetapkan kasus COVID-19 ini sebagai pandemi global. Menurut WHO pandemi adalah penyebaran penyakit ke seluruh dunia (World Health Organization, 2020).

Namun, tidak ada definisi yang dapat diterima tentang istilah pandemi secara rinci dan lengkap. Beberapa pakar mempertimbangkan definisi berdasarkan penyakit yang secara umum dikatakan pandemi dan mencoba mempelajari penyakit dengan memeriksa kesamaan dan perbedaannya. Penyakit dipilih secara empiris untuk mencerminkan spektrum etiologi, mekanisme penyebaran, dan era kegawatdaruratannya, beberapa penyakit yang pernah menjadi pandemi antara lain: acute hemorrhagic conjunctivitis (AHC), AIDS, kolera, demam berdarah, influenza dan SARS (Morens, Folkers and Fauci, 2009) (Rina & Dewi, 2020:374).

Adapun di Indonesia, COVID-19 masih saja banyak diperdebatkan antara masyarakat yang percaya dan tidak. Bahkan sebagian acuh tak acuh dalam menerapkan protokol kesehatan. Akan tetapi, pemerintah menetapkan, harus dilakukannya pencegahan dan karantina wilayah untuk mengantisipasi penyebaran virus ini.

Sampai saat ini, belum ada vaksin yang benar-benar manjur untuk mengobati COVID-19. Sementara para ahli tengah mengkaji vaksin, pemangku kepentingan mencoba mencegah penularan COVID-19 dengan menerapkan protokol kesehatan, yakni memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan stay at home atau di rumah saja.

Kesehatan Mental

Pandemi membawa perubahan besar dalam berbagai aspek seperti ekonomi, sosial, dan kesehatan mental. Sejak diterapkannya lockdown atau karantina wilayah semua aktivitas berubah. Masyarakat seakan kaget dan tak siap dengan perubahan dalam menghadapi pandemi ini. Semisal, pelajar dan mahasiswa yang tidak nyaman menjalani pembelajaran jarak jauh.

Posisi stay at home ini, bahkan membuat sebagian masyarakat kehilangan pekerjaannya. Situasi ini juga memaksa beberapa kegiatan masyarakat dalam bentuk solidaritas sosial harus ditiadakan.

Virus corona bukan hanya merenggut nyawa manusia, tetapi juga mengubah tata cara interaksi antara manusia. Dalam hal keagamaan misalnya Salat Jumat jemaah di masjid dan kegiatan peringatan hari besar Islam ditiadakan sementara. Umrah dan haji juga ditunda demi mencegah penularan virus.

Berbagai faktor tersebut sedikitnya dapat memengaruhi kesehatan mental. Padahal kesehatan mental yang prima dapat mencegah berbagai penyakit lainnya.

Edukasi

Edukasi anak terhadap virus corona ini sangat diperlukan agar buah hati tidak merasa bosan tinggal di rumah saja. Orang tua harus mampu membuat suasana di rumah lebih menyenangkan sehingga anak bisa betah tinggal di dalam rumah. Pemberian pemahaman terkait virus corona juga diperlukan sehingga anak tidak bertanya-tanya mengapa ia tidak boleh bermain dengan teman-teman, tidak boleh ke sekolah dan lain-lain.

Meski seluruh dunia saat ini menetapkan status pandemi, akan tetapi dalam implementasinya masih banyak yang mengabaikan protokol kesehatan. Sebagian masyarakat pelosok misalnya, menganggap virus corona belum nyata. Hal ini mungkin karena minimnya informasi dan edukasi yang diterima.

Kini, pandemi dinilai sebagian masyarakat sudah tak menyeramkan seperti di awal-awal terjadinya kasus di Indonesia. Tapi perlu diingat, sebagai negara padat penduduk, khususnya di perkotaan, Indonesia rentan sekali terhadap COVID-19. Bahkan, jumlah kasus harian bisa menyentuh 1.500 orang.

Oleh karena itu, protokol kesehatan menjadi penting untuk dipatuhi di era new normal. Meski masyarakat tak bisa terus stay at home karena alasan ekonomi dan solidaritas sosial, dengan adanya protokol tentu dapat mengurangi risiko terpapar virus. Hal itu bisa tetap menjaga kesehatan mental selama pandemi yang belum berakhir ini.


*) Penulis: Yusup Nurohman/Mahasiswa Jurusan Sosiologi Agama Universitas Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar