Lebih Nyaman Berwisata Saat Pandemi dengan Asuransi

  Rabu, 18 November 2020   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Tugu Pal Putih atau dikenal dengan Tugu Jogja. (Biro Komunikasi Kemenparekraf)

YOGYAKARTA, AYOYOGYA.COM -- Kendati pandemi Covid-19 belum usai, tapi keinginan masyarakat untuk berwisata tak terbendung.

Buktinya, beberapa lokasi yang sudah dibuka langsung dipadati masyarakat. Adapun untuk mengantisipasi penyebaran virus corona, sejumlah lokasi wisata di DIY menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

"Meski demikian, akan lebih baik jika masyarakat melindungi diri dengan asuransi untuk meng-cover dari berbagai risiko ketika berkunjung ke tempat wisata," ungkap Head of Corporate Communication & Event Management AXA Mandiri, Luile Retno Sawitri dalam Webinar bertajuk Sinergi Menumbuhkan Sektor Pariwisata Pasca-Pandemi yang diselenggarakan Forum Wartawan Ekonomi dan Bisnis DIY bekerjasama dengan asuransi AXA Mandiri, Selasa (17/11/2020).

Ia menyebutkan, pihaknya siap mendorong pengembangan industri wisata DIY di masa pandemi. Menurutnya, AXA mandiri mempunyai program kontribusi untuk negeri yang menyentuh berbagai sektor, tak terkecuali untuk masyarakat DIY yang banyak mendapat manfaat dari sektor pariwisata.

Pembicara lain, dokter spesialis paru RSA UGM dr. Siswanto, Sp.P., mengungkapkan bahwa aliran udara yang baik dapat menekan penyebaran Covid-19, selain Gerakan 4M, yaitu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan.

Menurut Siswanto, ketika orang yang bicara 1 menit mengeluarkan 200 virus. Dengan begitu, kalau 10 menit maka ada 1.000 virus.

"Kalau menghirup 1.000 virus, orang bisa sakit dan tertular. Kalau Kemenkes di angka 15 menit. Ventilasi itu penting, tapi bukan hanya ventilasi buka jendela saja. Tapi kalau bisa direkayasa aliran udaranya, agar bisa berganti ach-nya 6 kali itu relatif aman, bisa meminimalisasi," jelasnya.

Siswanto menekankan, di Yogyakarta, di mana saat ini sudah mulai uji coba destinasi wisata, hal tersebut perlu disosialisasikan. Hotel dan tempat-tempat wisata menurutnya wajib menerapkan merekayasa aliran udara agar virusnya tidak sampai berkumpul, bisa disedot kemudian dibuang ke luar.

“Ketika di luar di suhu panas itu, virus akan lebih cepat mati. Karena virus corona ini kan virus RNA bisa mati tergantung suhunya berapa dan berapa jam di situ,” ujarnya.

Penerapan rekayasa aliran udara menjadi penting mengingat kebanyakan wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta kebanyakan tidak bergejala. Meski demikian, jika wisatawan berkunjung ke tempat wisata yang tidak menerapkan rekayasa aliran udara, dan di tempat tersebut mengandung virus, maka menjadi rentan tertular.

Pemateri lain Kabid Pemasaran Dispar DIY Marlina Handayani mengungkapkan, di masa New Normal ini Dispar DIY telah memberikan izin uji coba terhadap 93 destinasi wisata. Dalam pemberian uji coba tersebut, Dispar DIY mensyaratkan agar tempat wisata menerapkan protokol kesehatan secara ketat. 

“Jadi terima kasih sekali atas informasi dari Dokter Siswanto. Terkait rekayasa aliran udara di hotel dan tempat wisata ini menjadi masukan penting dan akan segera kami sampaikan kepada para pelaku industri pariwisata,” jelas Marlina. (ADV)

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar