Mitos dan Sisi Lain Yogyakarta

  Senin, 12 Oktober 2020   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Ilustrasi.(Nyirorokidul.com)

AYOYOGYA.COM – Mitos kini hanya dianggap halusinasi atau sebagai dongeng belaka.

Mungkin beberapa orang yang mendengar sebuah mitos akan berkata pada hatinya, “kok bisa? Di mana letak kajian ilmiahnya?” Berbeda dengan Pamali yang selalu memberikan weweling atau nasehat, bahkan kata yang sering dijumpai, yakni “ojo” atau “jangan” dalam hal ini memang selalu ada penjelasan ilmiahnya.

Namun, mitos disisipi kekuatan di luar manusia. Mitos berkembang dengan tujuan menciptakan keragaman budaya di berbagai daerah. Mitos pun dikunyah empuk bagi masyarakat Jawa. Salah satunya warga Yogyakarta.

Yogyakarta yang dikenal sebagai kota yang berpendidikan, berkebudayaan dan destinasi wisata yang menggairahkan masyarakat luar daerah untuk berkunjung, ternyata menyimpan segudang mitos di dalamnya. Ratu Kidul dan Gunung Merapi tidak selalu menjadi objek mitos di Yogyakarta.

Mitos-mitos yang masih bagi warga Jogja, yakni:

Memeluk Tugu Jogja

Di kalangan mahasiswa yang sedang belajar di kampus Yogyakarta, mereka lebih mengenal Tugu Jogja sebagai Tugu Golong Gilig. Tugu tersebut menjadi terkenal karena didukung oleh mitos yang berkembang dari mulut ke mulut.

Konon sebagian orang mengatakan bahwa jika ingin segera lulus dan menyandang gelar, maka harus lah mahasiswa tersebut memeluk Tugu Jogja. Berkat mitos tersebut, tidak sedikit mahasiswa yang ingin lulus dan melakukan tindakan tersebut.

Suara Andong

Mitos selanjutnya, yakni barang siapa yang mendengar derak roda Andong beserta derap kaki kuda di malam hari itu menandakan bahwa para pendatang tersebut akan betah tinggal di Jogja.

Konon, Derak Andong dan Kuda tersebut milik Kanjeng Ratu Kidul sebagai sambutan selamat datang bagi para pendatang oleh Penguasa Pantai Selatan.

Suara Korps Drum Band

Di beberapa tempat misterius di Yogyakarta sering menggemakan suara Korps Drum Band di waktu subuh. Dari kejadian yang selalu diulang-ulang maka mendukung untuk dijadikan mitos bahwa gema Korps Drum Band tersebut berasal dari Kerajaan Merapi

Foto Depan UGM

Suatu area di depan gerbang utama Kampus Universitas Gajah Mada digaungkan mitos oleh mahasiswa. Konon, jika mahasiswa yang belum lulus dari UGM nekat untuk berfoto di areal tersebut, maka mereka akan menelan akibatnya untuk menjadi mahasiswa abadi. Dari kehangatan mitos tersebut, jika mahasiswa ingin cepat lulus diharapkan tidak berfoto di area tersebut.

Lampor di Lembah Kali Code

Di setiap malam tertentu, masyarakat yang tinggal di sepanjang Kali Code kerap kali mendengar suara gemerincing dan derap kaki kuda. Spontan, mereka dengan sigap menutup pintu dan jendela, mereka percaya bahwa itu suara lampor. Konon, tentara Laut Selatan sedang mengantarkan Kanjeng Ratu Selatan menuju Gunung Merapi. Mitos ini terjadi sudah sangat lama namun sampai saat ini masih diyakini oleh beberapa masyarakat.

Mereguk Air Selokan Mataram

Selokan Mataram merupakan kekhasan dari Yogyakarta. Selokan ini dibangun pada masa penjajahan Jepang (semasa Yogyakarta dibawah kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono IX) dikenal oleh warga pendatang karena mitosnya.

Konon, setiap warga pendatang yang bersedia mereguk air selokan Mataram, maka mereka akan terkenang dengan Yogyakarta. Mereka akan selalu ingin kembali dan singgah di Yogyakarta yang menyimpan kedamaian.

Hantu Biyung Tulung di Njeron Beteng

Pada masa dahulu, pernah geger karena misteri hantu biyung tulung di Njeron Beteng. Konon hantu ini tidak menampakkan wujudnya namun hanya menggemakan suaranya yang ditangkap telinga. Beberapa masyarakat mengatakan bahwa hantu Biyung Tulung memang tidak dapat ditangkap wajahnya namun hanya dapat mendengar suaranya, “Aduh, biyung. Tulung! (aduh, ibu. tolong!)” Mitos ini berkembang pesat karena ada kaitan dengan mistisnya.

Sekali lagi, mitos yang diciptakan bukan sebagai sarana untuk menakut-nakuti atau menciptakan hal-hal palsu maupun tipu daya yang hanya mengenyangkan para pembuat cerita.

Namun berbagai mitos diciptakan sebagai wujud kebudayaan yang masih kental dengan rasa kepercayaan. Mitos adalah salah satu keunggulan masyarakat Jawa untuk memperluas pengetahuannya dengan menggunakan ilmu titen (dititeni). Jika dikaji mendalam, maka mitos yang berkembang ini yang akan memperkaya kearifan dan referensi dalam laku kehidupan yang hebat. Mitos ini tidak hanya untuk masyarakat Jawa saja namun juga masyarakat yang ingin mempelajari tentang Jawa. 

 

Penulis: Yoggi Bagus Christianto / Mahasiswa FKIP UNS

 

Referensi. Achmad, Sri Wintala. 2014. PAMALI & MITOS JAWA : ILMU KUNO. Yogyakarta : Araska

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar