Sepak Bola di Tengah Pandemi: dari Protokol hingga Kreativitas Menarik Sponsor

  Minggu, 27 September 2020   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Webinar Sepak Bola di Masa Pandemi yang digelar Jurnalis Olahraga Yogyakarta (JOY) bersama PS Sleman, Sabtu (26/9/2020).

SLEMAN, AYOYOGYA.COM – PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator kompetisi Liga 1 dan 2 menyatakan restart kick-off Liga 1 akan dimulai tanggal 1 Oktober 2020.

Sepak bola di tengah pandemi Covid-19 ini menjadi tantangan tersendiri bagi operator Liga dan klub-klub Tanah Air dengan menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat.

Direktur Utama PT LIB, Akhmad Hadian Lukita menjelaskan alasan bergulirnya kompetisi di tengah wabah Covid-19 saat ini. Menurutnya, sebelum ditentukan tanggal kick-off, pihaknya sudah melakukan simulasi sekaligus penelitian penyelenggaraan sepak bola di tengah pandemi seperti saat ini.

“Kami sudah lakukan riset dan simulasi, seperti halnya klub-klub yang bertanding di Eropa. Bagaimana protokol kesehatan dilakukan sangat ketat bagi semua ofisial tim yang akan bertanding. Dan kami sudah berkoordinasi dengan Satgas Covid, bagaimana prosedurnya dalam protokol kesehatan,” jelas Lukita.

Pernyataan Lukita tersebut disampaikan secara gamblang dalam webinar Sepak Bola di Masa Pandemi yang digelar Jurnalis Olahraga Yogyakarta (JOY) bersama PS Sleman, Sabtu (26/9/2020).

Webinar yang diikuti 70 peserta dari jurnalis, suporter, mahasiswa, dan masyarakat luas ini menghadirkan Akhmad Lukita sebagai keynote speaker, Sigit Wahyu dari Carfix, Leonardo, Manajer Bisnis dan Komersial PSS, serta pengamat sepak bola Tanah Air, Yusuf Kurniawan.

“Protokol kesehatan ditekankan betul dalam penyelenggaraan liga yang tidak bisa diganggu gugat. Semua tim wajib uji rapid dan swab. Untuk swab ini harus dilakukan di bawah LIB sebelum pertandingan agar terkontrol dengan jelas. Tim juga wajib menyediakan fasilitas isolasi dan berbagai hal lain yang terkait protokol kesehatan,” ungkapnya. 

Lukita juga menegaskan seluruh pertandingan digelar tanpa penonton atau suporter yang mana hal tersebut menjadi komitmen bersama yang telah disetujui seluruh tim peserta. 

“Termasuk tidak ada nonton bareng di mana pun, sekarang kita nonton dan mendukung dari rumah sendiri-sendiri. Pemda dan Polda di tiap daerah akan bergerak memastikan hal tersebut,” tuturnya. 

Dua pembicara lain yakni Sigit Wahyu dari Carfix dan Leonardo, Manajer Bisnis dan Komersial PSS menceritakan bagaimana dua sisi sponsor dan tim bersinergi di masa pandemi. 

Sponsor di satu sisi punya kepentingan promosi di ruang yang memang sudah jelas punya segmen, sementara tim juga wajib memberikan benefit untuk sponsor. 

“Intinya kita komunikasi, kita bicara apa yang mungkin dilakukan bersama dalam momentum saat ini, di masa pandemi. Misalnya yang tadinya  ada booth di stadion, sekarang kan enggak bisa maka dipindah ke sosial media, atau video-video saat latihan tim. Kita harus punya kreativitas untuk menyesuaikan diri,” ungkap Leonardo.

Sigit Wahyu menambahkan, sponsorship dengan klub harus saling berkomunikasi, bagaimana tetap melakukan aktivitas promosi di tengah pandemi. 

“Yang paling memungkinkan saat ini dengan aktivitas promosi lewat sosial media, dari cara konvensional ke digital. Itulah yang dilakukan Carfix memahami kondisi sepak bola saat ini (pandemi Covid-19),” ucap Sigit.

Sementara Yusuf Kurniawan, pengamat sepak bola nasional mengatakan di masa pandemi seluruh kegiatan memang berubah. Model bisnis offline harus berubah ke daring untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan yang baru akibat konsekuensi pandemi. 

“Segala bisnis konvensional harus berubah di masa ini, harus secara daring. Saya melihat baru Bali United yang melakukan model bisnis ini dan beberapa mengikuti seperti PSS yang punya pro player e-sport Rizky Faidan. Ini menarik karena ke depan, arahnya memang harus digital. Sosial media dimaksimalkan, lalu interaksi di digital, ini tantangan juga untuk seluruh tim di Indonesia, juga dalam develope pemain muda,” ungkap Yuke. (Budi Cahyono/Ayoyogya.com)

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar