Sejarah Pembangunan Tugu Pal Putih Jogja

  Senin, 01 Juni 2020   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Tugu Pal Putih atau Tugu Yogyakarta - (SUARA/Eleonora PEW)

KOTA YOGYAKARTA, AYOYOGYA.COM -- Tugu Pal Putih atau yang lebih populer dikenal dengan nama Tugu Jogja kerap dikerumuni wisatawan.

Tugu Pal Putih ini memang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Jogja. Ketika malam tiba, tidak sedikit turis yang beramai-ramai mengelilingi Tugu Pal Putih.

Usut punya usut, Tugu Pal Putih ternyata sudah menjadi saksi bisu berkembang pesatnya Kota Jogja sejak tiga abad yang lalu. Tugu bersejarah ini dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) I pada 1755, setelah pembangunan Keraton Yogyakarta rampung.

Jika Anda pernah menyambangi Keraton Jogja, Anda dapat melihat keunikan di balik letak Tugu Pal Putih ini. Bagi Anda yang belum tahu, Tugu Pal Putih begitu unik karena lokasinya berada satu garis dengan Keraton Yogyakarta, Laut Selatan, dan Gunung Merapi.

Melansir dari Guideku.com dan Suara.com, dahulu kala, ketika kali pertama selesai dibangun, bentuk Tugu Pal Putih belum seperti yang bisa Anda lihat sekarang. Ketika dibangun, Tugu Pal Putih ini berbentuk golong gilig.

Gilig sendiri memiliki arti silinder, sedangkan Golong berbentuk bak bola pejal. Hal inilah yang mengacu pada bentuk asli tugu, yakni berbentuk silindris dan menyangga bola pejal. Menurut kepercayaan masyarakat, bentuk Tugu Pal Putih memiliki makna persatuan di antara Keraton Jogja dan juga rakyatnya.

Setelah 100 tahun dibangun, Tugu Pal Putih sempat runtuh karena gempa hebat yang melanda Yogyakarta. Pascagempa bumi dahsyat tersebut, Tugu Pal Putih hancur menjadi tiga bagian dan sempat terbengkalai.

Di tahun 1889, akhirnya pemerintah Belanda memperbaiki Tugu Pal putih. Saat itu perbaikan Tugu Pal Putih berada di bawah pengawasan Patih Dalem Kanjeng Raden Adipati Danurejo V.

Dahulu, tugu yang dibangun Sultan HB I ini memiliki ketinggian 25 meter, tetapi setelah rusak kemudian dibangun kembali oleh Belanda, tinggi dari Tugu Pal Putih berubah menjadi l15 meter. Tak hanya ketinggiannya saja yang berubah, bentuk dari Tugu Pal Putih juga menjadi runcing.

Hal tersebut dilakukan oleh Belanda dengan maksud meregangkan hubungan antara Keraton Jogja dari rakyatnya. Namun, warga Jogja pada waktu itu segera menyadari niatan buruk Belanda. Tak lama kemudian, tugu yang baru tersebut diresmikan oleh Sri Sultan HB VII, tepatnya pada tanggal 3 Oktober 1889 dan dinamai Tugu Pal Putih.

Terdapat sejumlah simbol terlihat di Tugu Pal Putih, di antaranya yakni Bintang David enam sudut, titik emas, sudut meruncing serta daun loto. Puncak berbentuk spiral bak tanduk unicorn inilah yang menjadi daya tarik dari Tugu Pal Putih.

Lokasi Tugu Pal Putih berada di persimpangan Jalan Sudirman, Jalan AM Sangaji, Jalan Diponegoro, serta Jalan Mangkubumi. Waktu terbaik menyambangi Tugu Pal Putih ini adalah di malam hari. Bukan tanpa alasan, selain Anda bisa melihat gagahnya Tugu Pal Putih disorot lampu, terdapat pula berbagai atraksi jalanan hingga kuliner malam seperti angkringan yang letaknya tak jauh dari ikon Kota Jogja ini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar