Mahasiswi Digerayangi Wakil Ketua Organisasi dengan Modus Diskusi

  Kamis, 21 Mei 2020   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Ilustrasi pelecehan seksual (Istimewa)

YOGYAKARTA, AYOYOGYA.COM — Wajah kampus di Kota Pelajar kembali tercoreng dengan adanya kasus pelecehan seksual.

Setelah kasus Agni di UGM, kejadian serupa menimpa sosok sebut saja Lani di UII.

Alumnus UII yang tercatat sebagai mahasiswa berprestasi, yakni Ibrahim Malik (IM) dicatut sebagai yang bertanggung jawab atas pelecehan seksual yang menimpa Lani dan sejumlah mahasiswi UII lainnya. LBH Yogyakarta mencatat ada sebanyak 30 aduan dari korban pelecehan seksual yang mengaku pernah bersinggungan dengan IM tersebut.

Kasus pelecehan seksual tak dimungkiri memang masih menjadi hantu menakutkan terutama bagi kaum hawa. Mereka bahkan kini bergentayangan di lingkungan yang dianggap aman sekalipun seperti lembaga pendidikan sekolah hingga kampus.

Sayangnya, hanya sedikit di antara korban yang berani untuk mengungkap bahkan melaporkan kepada lembaga atau pihak yang berwajib.

Berdasar penelusuran dengan mengambil lingkup lingkungan kampus, wartawan menemukan fenomena tersebut banyak ditemukan meski pada akhirnya tak pernah terungkap ke publik.

Sebut saja seperti yang dibeberkan oleh Ayu. Mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Jogja tersebut mengungkapkan bahwa salah seorang temannya pernah mendapatkan perlakuan pelecehan seksual yang dilakukan oleh rekan satu organisasi di kampus.

"Jadi ceritanya waktu itu ada rapat organisasi. Sembari menunggu teman yang lain datang, jadi teman saya dengan tiga rekan prianya menunggu di sebuah kafe. Namun karena suasana kafe yang kurang kondusif mereka memutuskan pindah," kata dia.

Ayu menyebut saat itu salah seorang pria tersebut berinisiatif untuk berpencar mencari tempat nongkrong lainnya. Tapi bukannya mencari kafe, salah seorang pria tersebut justru mengajak teman Ayu menghampiri kontrakannya.

"Jadi cerita temenku itu, dia bukannya diajak mencari kafe, tetapi sama salah seorang rekan prianya malah kembali ke kontrakan. Jadi di kontrakan tidak ada orang sehingga mereka berdua masuk. Awalnya berfikir jika rapatnya akan dilakukan di kontrakan itu, karena kami juga biasa berdiskusi di sana. Teman saya akhirnya masuk ke kamar dimana kontrakan memang sepi karena beberapa orang pulang," jelas dia.

Dalam kondisi sepi, pria tersebut sengaja menyentuh beberapa bagian tubuh teman Ayu yang berada di kamar. Tak terima diperlakukan tak pantas, teman Ayu menepis dan marah, iapun memutuskan pulang.

"Setelah itu dia datang dengan menangis karena mendapat perlakuan seperti itu. Memang dia hanya menceritakan kepada satu orang. Namun persoalan ini cukup riskan dan takutnya bisa terjadi ke anggota lain. Saya juga sedikit kesal dengan laki-laki itu sampai melakukan perbuatan seperti itu. Saya juga menyuruh teman ini (wanita) itu untuk melaporkan ke pihak berwenang, tapi urung dilakukan sampai saat ini," katanya.

Ayu mengaku bahwa kejadian tersebut terjadi baru-baru ini. Tepatnya saat liburan semester mahasiswa, saat itu pandemi Covid-19 belum menyebar di Yogyakarta.

"Kejadiannya memang baru, setelah ditelusuri, memang pria ini menaruh hati kepada teman saya. Meski belum mendapat respon kejadian itu malah terjadi dan membuat teman saya marah. Dia berusaha menghindari pria ini, bahkan ketika mendengar namanya dia sedikit marah," katanya.

Posisi pria ini sendiri merupakan Wakil Ketua di organisasi yang diikuti Ayu. Ia mengaku tak mengira rekan organisasinya tersebut bisa melakukan perbuatan tak pantas tersebut. Apalagi mengingat perawakan dan penampilannya dari luar tak memperlihatkan sesuatu yang ganjil.

"Jujur memang kepribadiannya (pria) itu baik, parasnya juga bagus. Tapi saya terkejut juga dia sampai melakukan hal seperti itu," kata dia.

 

Penyintas Tak Berani Lapor

Konselor Psikologi dari Rifka Anissa Women's Crisis Center, Indiah menyebut pelecehan seksual sangat berpotensi terjadi di lingkungan pendidikan karena adanya relasi kuasa yang sangat timpang. Sementara, di sisi lain pelecehan seksual masih dipandang sebagai hal yang tabu.

"Pertama ada konstruksi gender yang menempatkan perempuan sebagai objek, termasuk objek seksual dan adanya nilai-nilai yang menganggap hal tersebut sebagai hal normal. Selanjutnya, faktor lain seperti adanya relasi kuasa yang timpang, baik dari hubungan atasan-bawahan, senior-junior atau yang lain," ungkapnya.

Selain itu, belum adanya sistem yang mengatur pencegahan dan penanganan kekerasan seksual membuat institusi pendidikan nampak kebngungan dalam menyikapinya.

Sehingga dengan tidak adanya sistem yang jelas mengatur hal ini, membuat banyak korban pelecehan seksual memilih diam dan tidak menceritakan kasusnya. Hal inilah yang kemudian menurut Indiah bisa berdampak pada semakin besarnya kemungkinan pelecehan seksual di lingkungan kampus.

"Alasannya karena tidak ada jaminan kasusnya bisa diselesaikan," ujarnya.

Indiah berpandangan, sebagian besar kampus belum secara gamblang mengatur pelecehan seksual secara khusus sehingga masih tercampur dengan aturan pelanggaran etika.

"Pelecehan seksual kadang dipandang sebagai pelanggaran etika dan norma, sehingga korban juga disalahkan bahkan dihukum. Pandangan ini perlu diubah. Disitulah penting ada aturan sendiri untuk menyamakan pandangan tentang kekerasan seksual," pungkasnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar