Tangkal Corona, Puskesmas Panjatan II Kenalkan Metode Akupresur

  Jumat, 03 April 2020   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Aditya Adinata dan Kepala Puskesmas Panjatan II, dr. Renny Lo di depan Puskesmas Panjatan II. [Hiskia Andika Weadcaksana / SuaraJogja.id]

YOGYAKARTA, AYOYOGYA.COM — Cara mencegah Covid-19, yakni dengan meningkatkan imunitas tubuh.

sebagian orang pun percaya metode akupresur dianggap mampu meningkatkan imun. Akupresur merupakan teknik pengobatan tradisional dari Tiongkok yang saat ini sudah diakui oleh WHO. Teknik ini mirip dengan akupunktur, namun tidak menggunakan jarum.

Metode yang dilakukan adalah dengan menekan titik-titik bagian tubuh menggunakan jari tangan. Akupresur memiliki beberapa manfaat untuk kesehatan, seperti membantu meningkatkan sirkulasi darah, merangsang sistem saraf, serta membuat tubuh menjadi rileks dan lebih bertenaga.

Di saat wabah Covid-19 yang menyebabkan hampir semua orang merasa cemas dan takut, Puskesmas Panjatan II berinisiatif membuat video edukasi bertajuk Pijat-pijat Pancen Oye (PPO) yang berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Gerakan PPO tersebut mengacu pada akupresur yang sudah dipelajari sebelumnya.

Hal ini diharapkan supaya masyarakat bisa melakukan akupresur secara mandiri. Ada yang dilakukan oleh petugas ada yang bisa diajarkan dan dilakukan masyarakat sendiri.

"Jadi kebetulan dokter Adit sedang bertugas Internship di Puskesmas Panjatan II, dokter ini menjadi media promosi yang baik karena ternyata beliau punya followers di sosial media yang sudah banyak, awalnya saya juga tidak tahu," ujar Kepala Puskesmas Panjatan II, Renny Lo, Kamis, (2/4/2020).

Penelitian secara khusus tentang titik-titik ini sudah dilakukan oleh para dokter yang mempelajari akupuntur di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM). Saat ini akupuntur sendiri sudah makin diakui di ranah medis.

Sudah banyak dokter yang meneliti terkait pengobatan akupresur ini. Ia meyakini bahwa jika dapat dikemas menarik untuk masyarakat, tidak perlu mengetahui istilah-istilah yang terlalu rumit tapi cukup dengan titik-titiknya dan kegunaannya seperti apa, akan sangat bermanfaat.

"Tahun 2013 sudah belajar akupuntur, saya sendiri merasakan manfaat yang luar biasa. Tidak sekadar ilmu yang saya bagikan tapi manfaat itu saya rasakan sendiri. Di usia saya ini pegel linu sering, lalu saya pijet sendiri di titik-titik itu lalu memang terasa efeknya," tuturnya.

Setelah itu lalu berkembang sampai di tahun 2018 ia mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Kemenkes di Jakarta. Sepulang dari banyak pelatihan tersebut akhirnya Renny bersama teman tenaga medis lainnya seolah mempunyai tiket untuk mengembangan hasil pelatihannya tersebut di layanan pemerintah.

Renny mengungkapkan, dulu pihaknya masih mandiri menggunakan dana sendiri yang kemudian dikembangkan di tempat praktek yang berada di rumahnya. Tetapi dengan adanya berbagai macam pelatihan itu, ia berpikir untuk makin melebarkan sayap hingga masuk di dalam institusi pemerintah.

Setelah itu baru muncul sebuah inovasi secara sederhana tentang bagaimana akupresur dapat dilakukan oleh masyarakat secara mandiri.  

"Tidak mungkin saya sebagai seorang dokter memijat pasien dengan keluhan tertentu selama berjam-jam, tetapi kami bisa mengajarkan kepada pasien. Kami bener-bener mengajari hal itu," ungkapnya.

Puskesmas Panjatan II juga memiliki kelompok binaan yang berisi masyarakat pengidap hipertensi dan kencing manis. Pihaknya mengajarkan titik-titik akupresur mandiri, tiap bulan bertemu dengan pihak puskesmas.

Puskesmas Panjatan II sudah mengembangkan Pijat-pijat Pancen Oye untuk lansia sejak tahun lalu. Kegiatan tersebut mengajarkan komunitas lansia PPO dengan 15 titik relaksasi, mulai dari kepala, punggung, perut, tangan dan kaki.

Ia menambahkan bahwa tidak perlu tergantung dengan obat-obatan untuk menyembuhkan keluhan pegal linu dan semacamnya. Tapi cukup dengan memijat titik tertentu secara mandiri.

Pihaknya mengembangkan dan mengajari kelompok lansia di sekitar wilayah puskesmas sudah hampir 2 tahun untuk memijat secara mandiri. Wilayah Puskesmas Panjatan II sendiri membawahi 4 desa binaan yaitu Bojong, Pleret, Garongan dan Bugel.

Terkait video akupresur yang sempat viral beberapa hari lalu, ia mengakui sudah menjalankan kegiatan tersebut sejak lama. Namun baru saat ini kegiatan tersebut akhirnya disadari oleh banyak pihak.

"Sudah sering melakukan sosialiasi terkait dengan akupresur sebelum viral, dari 2018 kita sudah mulai akupresur untuk kelompok lansia," ujarnya.

Ia menjelaskan, hal itu bermula di hari Kamis, (26/3/2020) setelah pelayanan tim medis Puskesmas Panjatan II membuat video akupresur di aplikasi tiktok. Lalu Aditya Adinata (25), salah seorang dokter internship ditunjuk untuk membuat video tersebut lalu membagikan hasilnya ke sosial media miliknya, di twitter dan instagram.

Pria yang kerap disapa Adit tersebut tidak menyangka bahwa video tersebut akan meledak hingga sampai ke banyak orang. Bahkan merambah hingga grup WhatsApp keluarga.

"Dah saya taruh gitu aja di sosmed saya, terus tiba-tiba meledak sendiri, saya juga agak kaget," katanya.

Saat itu memang diakui pihak puskesmas sebagai promosi yang sangat berhasil melalui dokter Adit. Baru kali ini juga membuat konten seperti itu di jagat maya.

Pihak rumah sakit pun sangat mendukung dan mengapresiasi penuh video akupresur tersebut. Bahkan semua status karyawan pada sosial media masing-masing pada hari itu juga menggunakan video itu.

Hal ini seolah menjadi timing yang tepat untuk melakukan promosi kegiatan di Puskesmas Panjatan II. Renny juga mengungkapkan bahwa Puskesmas Panjatan II setiap hari pukul 10.00 WIB melakukan Pijat-pijat Pancen Oye (PPO) sembari berjemur.

Sementara itu Adit, mahasiswa luluas S1 Kedokteran UGM yang sedang menjalani program internshipnya di Puskesmas Panjatan II melalui Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI), menuturkan bahwa baru ketika di Puskesmas Panjatan II ini dirinya mempelajari akupresur.

"Bener-bener mulai dari nol, karena waktu pendidikan kedokteran pun juga jarang diajarkan. Kemudian karena ranahnya pengobatan alternatif bukan pilihan utama, seolah orang-orang atau petugas medis juga meremehkan ini. Seperti saat kemarin saya upload video itu, tidak sedikit juga yang meragukan kebenaran akupresur tersebut atau bahkan memberi kometar negatif. Saya hanya membalas dengan memberikan referensi yang saya punya. Walaupun hal ini masih belum dikenal banyak atau dianggap baru oleh masyarakat namun penelitiannya juga sudah ada banyak," tuturnya.

Adit ikut merasa senang ketika ternyata videonya mendapat banyak perhatian. Pasalnya di tengah kondisi wabah covid-19 yang membuat banyak orang harus tetap berdiam di rumah, akupresur bisa menjadi salah satu alternatif kegiatan mengisi waktu luang.

Ada berbagai macam manfaat jika melakukan akupresur apalagi saat berjemur di bawah sinar matahari pagi. Selain dapat membantu meningkatkan imunitas, tentunya tetap menjaga tubuh tetap sehat dan bugar.

"Karena memang lagi pandemi dan semua orang lelah di rumah, saya paham, mereka tertekan dan stres tidak bisa keluar setidaknya ada hal positif yang bisa dilakukan. Ya dari diri sendiri dulu aja,

Seperti yang selalu ditekankan oleh Kepala Puskesmas, Renny Lo dan pihak Puskesmas Panjatan II, bahwa sehat diawali dari diri sendiri.

 

 

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar