Orang Tua dari Siswa SMPN 1 Turi Sleman yang Hanyut Berusaha Tetap Tegar

  Jumat, 21 Februari 2020   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Sejumlah orang tua pelajar SMPN 1 Turi korban hanyut banjir Sungai Sempor menunggu di Klinik Pratama SWA, Trimulyo, Sleman, Jumat (21/2/2020). - (Suara.com/Baktora)

SLEMAN, AYOYOGYA.COM — Orang tua siswa SMPN 1 Turi korban insiden hanyut Sungai Sempor hanya bisa berharap-harap cemas untuk keselamatan anaknya yang tengah dicari oleh tim gabungan BPBD, TNI/Polri, SAR, dan lainnya.

Salah satu orang tua korban, Tri Haryanti (44), hanya berharap, anaknya ditemukan dalam keadaan selamat.

"Saya mendapat kabar dari grup WhatsApp (WA) bahwa ada kejadian itu . Sebelumnya belum tahu apakah anak saya jadi korban atau tidak, tapi banyak saudara yang menghubungi saya dan akhirnya saya mencari informasi lanjutan," kata Tri Haryanti saat ditemui di Klinik SWA, Trimulyo, Sleman, Jumat (21/2/2020) malam.

Ibu dari anak bernama Faneza Amalia (12) ini mengaku, hanya harapan selamat yang dia inginkan ketika anaknya ditemukan.

"Harapannya bisa segera ditemukan dengan keadaan selamat," ungkapnya, lirih.

Tri, yang tinggal di Glagahombo, Sleman menjelaskan, ketika mendapat informasi bahwa anaknya menjadi korban hanyut, keluarga ikut membantu mencari di setiap klinik yang ada. Sebelumnya, dia mendapat informasi bahwa Faneza sudah dibawa ke klinik Pratama SWA.

"Keluarga ikut mencari ke tiap lokasi yang ada, termasuk di Puri Husada dan Klinik Pratama SWA. Nah, di SWA itu saya dikabari bahwa anak saya di sana, ketika saya lihat, ternyata bukan dia ," terang dia.

Tri tak henti-hentinya meminta doa agar anaknya ditemukan dengan keadaan selamat.

Pantauanwartawan di lapangan, sejumlah warga dan orang tua korban berkumpul di depan klinik Pratama SWA. Tri bersama sejumlah keluarga lain menunggu informasi lanjutan.

Dari informasi yang dihimpun, hingga pukul 19.40 di Klinik SWA sudah ada lima korban yang datang. Semuanya diketahui dalam keadaan meninggal dunia.

Diberitakan sebelumnya, 250 siswa SMPN 1 Turi, Sleman terseret arus saat melakukan kegiatan Pramuka Susur Sungai Sempor di Dusun Dukuh, Desa Donokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Jumat (21/2/2020) sore.

Ketua Basarnas DIY Wahyu Effendy mengatakan, dari 256 siswa yang mengikuti kegiatan Pramuka, 6 di antaranya izin tak mengikuti susur sungai. Jadi, total ada 250 siswa yang resmi tercatat ikut kegiatan Susur Sungai Sempor.

Data terakhir menyebutkan, enam orang dinyatakan meninggal, sedangkan yang lainnya dikabarkan luka, dan sebagian lainnya belum ditemukan.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar