Meski Turun, Jumlah Anak Telantar Gunungkidul Masih Ribuan

  Senin, 10 Februari 2020   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Ilustrasi anak telantar (odishasuntimes.com)

GUNUNGKIDUL, AYOYOGYA.COM — Jumlah anak telantar di Kabupaten Gunungkidul masih terhitung ribuan meski dari tahun ke tahun mengalami penurunan.

Dinas Sosial (Dinsos) Gunungkidul pun berkomitmen untuk terus mengurangi jumlah anak telantar di Bumi Handayani itu. Hingga saat ini total masih ada sekitar 3.254 anak dalam kondisi tak terurus di Gunungkidul. Meski demikian, Dinsos Gunungkidul mengklaim, dari tahun ke tahun jumlahnya terus menurun.

Berdasar data Dinsos, dilansir HarianJogja.com dan Suara.com, jumlah anak telantar di Gunungkidul pada 2014 sebanyak 7.838 anak. Namun, berkat komitmen dan sentuhan program dari pemerintah, jumlah ini berhasil dikurangi hingga akhir 2019 tinggal 3.254 anak.

Hal tersebut seperti diungkapkan Sekretaris Dinsos Gunungkidul Wijang Eka Aswarna. Ia mengatakan, anak telantar merupakan masalah yang harus dipecahkan Pemkab.

"Kami berkomitmen untuk mengatasi berbagai permasalahan sosial, salah satunya penanganan anak telantar," kata Wijang kepada wartawan, Minggu (9/2/2020).

Wijang menjelaskan, kategori anak telantar adalah anak berusia enam tahun hingga 18 tahun yang mengalami perlakuan salah dan ditelantarkan orang tua atau keluarga, sehingga anak kehilangan hak asuh. Kasus anak telantar ini, kata Wijang, merata di seluruh kecamatan di Gunungkidul.

"Di 18 kecamatan ada anak telantar, tapi jumlahnya antara satu kecamatan dengan kecamatan lain berbeda-beda," ungkapnya.

Penanganan anak telantar sendiri terbagi dalam program rehabilitasidan pemberdayaan. Wijang menjelaskan, program rehabilitasi dilakukan dengan memasukkan anak telantar ke panti sosial, sedangkan pemberdayaan merupakan program lanjutan, di mana setiap anak diberi pelatihan supaya mereka memiliki keterampilan untuk bekal hidup yang lebih baik.

"Dua program ini yang dijalankan. Harapannya jumlah anak telantar di Gunungkidul bisa terus dikurangi," ujar Wijang.

Ia menilai, upaya pengurangan potensi anak telantar butuh partisipasi aktif dari masyarakat di lingkungan sekitar, sehingga anak-anak itu tidak terjemurus ke jalan yang salah dalam pergaulan.

"Kesadaran dari masyarakat ini penting agar penanganan anak telantar dapat dimaksimalkan," tutur Wijang.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar