60 Persen SMA di Sleman Terpapar Paham Radikal

  Kamis, 16 Januari 2020   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Ilustrasi siswa SMA di Sleman (Yasin Habibi/Republika)

SLEMAN, AYOYOGYA.COM -- Radikalisme dinilai telah masuk dan memengaruhi sejumlah sekolah di Kabupaten Sleman.

Kondisi ini dilaporkan Ketua Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam (FKPAI) Sleman Unsul Jalis. Ia menyebutkan, hampir 60 persen SMA di wilayah Sleman terpapar paham radikal. Selain itu, ada sekitar 30 persen guru-guru SMA yang juga dinilai terpapar paham radikal.

"Itu data hasil kajian dari angket yang kami sebar di seluruh SMA Negeri dan Swasta pada 2019 lalu," kata Jalis seperti dilansir dari Harianjogja.com -- jaringan Suara.com, Rabu (15/1/2020) kemarin.

Jalis menerangkan, penyebaran angket tersebut dilakukan untuk mengetahui sejauh mana siswa dan guru SMA di wilayah Sleman terpapar paham radikal. Angket disebar tidak hanya di sekolah negeri, melainkan juga sekolah swasta, dan tidak hanya SMA, tetapi juga MA.

AYO BACA : Kasus Suap SAH, Gabriella Divonis 1 Tahun 6 Bulan

"Jadi ini bukan sekadar isu, tetapi faktanya memang seperti itu," ujar Jalis.

Beberapa indikasi atau pertanyaan dalam angket yang ditanyakan berkaitan dengan ulama-ulama yang selama ini menjadi panutan dalam beragama. Hasilnya, jawaban sebagian siswa dan guru merujuk pada ulama-ulama yang dianggap radikal.

"Indikator lainnya, saat ini sudah ada pergeseran penyebutan OSIS menjadi Rohis. Di beberapa sekolah itu sudah terjadi," terang Jalis.

Ia menjelaskan, masuknya paham-paham radikal ke sekolah-sekolah itu bukan terjadi tiba-tiba, tetapi sengaja dibawa.

AYO BACA : Dicatut dalam Sidang Suap SAH, Walkot Haryadi Siap Bersaksi

"Ada gerakan agar paham ini masuk ke sekolah-sekolah. Kalau ada satu saja yang terpapar, entah itu siswa atau guru, pasti mereka akan mengajak orang lain. Dengan begitu perkembangan paham ini akan sangat massif," jelas Jalis.

Temuan tersebut kemudian disampaikan kepada pemerintah. Supaya penyebaran radikalisme tak makin meluas di kalangan pelajar dan guru, kata Jalis, diperlukan upaya dan langkah nyata untuk membendungnya.

"Misalnya dengan memperbanyak kajian dan dakwah Islam moderat di sekolah-sekolah," ungkapnya.

Sementara, menurut dia, dibutuhkan juga pendampingan atau penyuluhan bagi siswa-siswi yang sudah terpapar paham radikal, tetapi sampai saat ini para penyuluh agama masih belum bisa masuk ke tanah sekolah untuk memberikan pendampingan tersebut.

"Kami masih menunggu adanya kesepakatan antara Kemenag dengan Disdik Sleman agar bisa masuk ke sekolah-sekolah. Kalau pintu ini dibuka, kami siapkan kurikulum bagi sekolah," kata Jalis.

Sebelumnya, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKTP) Prof M Mukhtasar menyebutkan, selain sekolah, penyebaran paham radikal di Sleman rentan masuk ke kampus-kampus.

"Radikalisme tingkat bawah ditanamkan dengan membangun sifat ekslusif. Menerapkan intoleransi setengah-setengah. Misalnya, tidak mau mengucapkan selamat saat perayaan hari raya agama tertentu," ujar Mukhtasar.

AYO BACA : Dari Sutradara hingga Petinggi Ormas, Profil Ratu Keraton Agung Sejagat

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar