Labrak Pembunuh Dio, Ibu Koban: Nyawa Dibayar Nyawa!

  Selasa, 14 Januari 2020   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Widi Astuti (39), ibu Dio, korban penganiayaan di Jalan Siluk-Imogiri, Bantul, meluapkan emosi melihat tersangka, APS, di Mapolres Bantul, Selasa (14/1/2020). - (Suara.com/Julianto)

BANTUL, AYOYOGYA.COM -- Perempuan itu mengenakan baju kotak-kotak dan jilbab berwarna biru, ia berdiri termenung di lobby Mapolres Bantul beberapa saat sebelum konferensi pers digelar.

Agenda hari ini, Selasa (14/1/2020), Polres Bantul merilis kasus kematian Fatur Nizar Rakadio alias Dio (17), pelajar Kelas 10 SMKN 2 Depok Sleman.

Ibu itu tampak gelisah, sesekali melihat handphone yang dipegangnya, lantas berjalan mondar-mandir. Terlihat tiga orang wanita lainnya mendampingi wanita berjilbab biru tersebut. Sesekali mereka terlihat berbincang, tetapi tidak jelas topik yang dibicarakan.

Wanita berjilbab biru tersebut kemudian terlihat sedikit 'beringas' ketika tersangka dibawa masuk ke lobby Mapolres untuk dihadapkan ke awak media dalam konferensi pers tersebut. Tersangka masuk ke lobby Mapolres dikawal sejumlah petugas kepolisian. Beberapa saat kemudian, rombongan pelajar menyusul di belakang si tersangka.

Melihat mereka, ibu berjilbab biru ini seketika terdiam. Dia mengamati satu per satu anggota rombongan pelajar tersebut meskipun para pelajar ini membelakanginya, kecuali tersangka. Ia terdiam cukup lama memperhatikan wajah tersangka, baik sebelum ataupun ketika mengenakan masker.

AYO BACA : Polres Bantul Ringkus Pelajar yang Aniaya Dio hingga Tewas

Tiba-tiba, wanita itu berteriak histeris sembari menunjuk-menunjuk ke arah tersangka.

"Lihat ke saya! Lihat ke saya!" teriaknya.

Entah apa yang diucapkan wanita ini, tetapi sejurus kemudian dia ditarik mundur oleh seorang pria yang kemudian memeluknya. Wanita ini masih terus berteriak histeris hingga akhirnya ia diminta untuk tenang oleh aparat kepolisian.

Wanita ini tak lain adalah Widi Astuti (39), ibu dari almarhum Dio. Dia datang bersama kerabatnya yang lain, dan terlihat pula teman-teman korban juga datang dalam konferensi pers tersebut. Mereka ingin menyaksikan secara langsung wajah pelaku yang menendang korban hingga akhirnya korban meninggal dunia.

Ketika sudah tenang, Widi Astuti akhirnya bersedia untuk diwawancarai. Ia berharap agar pelaku dihukum setimpal dengan apa yang menimpa anaknya. Wanita ini ingin tersangka dihukum seberat-beratnya karena telah menghilangkan nyawa anak kesayangannya tersebut.

AYO BACA : Mahfud MD dan Gus Mus Soal Yel SARA: Merendahkan dan Melukai

"Nyawa harus dibayar nyawa. Tugel sikile ora mung tugel sikile !"seru Widi.

"Anak saya itu anak yang anteng, tidak pernah main. Apalagi tadi alasannya karena iseng," tambahnya.

Ia lantas menceritakan anaknya ketika dirawat di RSUP Sardjito. Anaknya sempat dirawat selama sepekan di bangsal dan kemudian dipindah ke ruang PICU. Meski demikian, korban dalam keadaan sadar dan bisa diajak komunikasi.

Namun seminggu sebelum Dio meninggal, kondisinya memang menurun dan oleh dokter dipasangi ventilator. Setelah itu korban tidak bisa diajak komunikasi karena menurut keterangan dokter yang ia terima, korban memang sengaja 'ditidurkan' hingga akhirnya dinyatakan meninggal hari Kamis lalu.

"Selama sadar, Dio itu yang diomongin selalu sekolah," tutur Widi.

Selama sadar itu pula, Dio sempat menceritakan peristiwa apa yang menimpanya tersebut, sehingga ia mengetahui secara pasti kronologi yang mengakibatkan anaknya jatuh dan peristiwa-peristiwa sebelumnya.

Widi menandaskan, anaknya tidak memiliki musuh selama hidupnya karena ia dikenalnya sebagai anak yang anteng dan tidak pernah main. Kegiatan sehari-hari Dio hanyalah di sekolah, di mana korban berangkat pukul 06.00 WIB dan baru pulang ketika Magrib bahkan hingga Isya.

"Setiap hari itu kegiatan dia itu di sekolah. Makanya selama di rumah sakit yang dibicarakan itu selalu sekolah dan sekolah," kenangnya.

AYO BACA : Titah Keraton Agung Sejagat: Tak Tunduk Kami Anggap Teroris

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar