Pemuda (Masih) Menjadi Harapan Bangsa

  Senin, 28 Oktober 2019   M Naufal Hafiz
Ilustrasi pemuda. (Pixabay)

Pemuda merupakan salah satu tumpuan dan harapan bangsa Indonesia, tanpa peran pemuda dan pemudi bangsa ini tak akan menjadi bangsa yang besar dan tak akan menjadi bangsa yang dihormati dan dihargai oleh bangsa lain.

Bahkan presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno pernah berkata, “Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. berikan aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”.

Pada tanggal 28 Oktober 1928 para pemuda dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul dalam konggres pemuda II yang melahirkan sumpah pemuda yang isinya merupakan tekad yang kuat untuk maju dan bersatu demi keutuhan Indonesia.

Semangat yang luar biasa ditunjukkan oleh pemuda-pemuda Indonesia kala itu. Bagaimana dengan kondisi pemuda masa kini?

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pemuda di Indonesia pada tahun 2018 sekira 63,8 juta atau 24,1 persen dari total penduduk Indonesia (265 juta).

Jumlah yang cukup besar tentunya memberikan sebuah potensi yang cukup besar pula mengingat usia muda merupakan usia produktif yang jika dimaksimalkan akan mebuat sebuah perubahan yang cukup signifikan terhadap kondisi suatu bangsa.

Namun di balik itu semua, masih ada pemuda Indonesia yang diindikasikan belum mempunyai pekerjaan.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pemuda Indonesia tahun 2018 sebesar 13,47 persen yang berarti bahwa dari setiap 100 angkatan kerja pemuda, terdapat sekitar 13 pemuda yang tidak bekerja dan sedang mempersiapkan usaha atau mencari pekerjaan.

Menurut tipe daerah, TPT pemuda di perkotaan sedikit lebih tinggi daripada pedesaan. Berdasarkan tingkat pendidikan, nilai TPT pemuda yang paling tinggi adalah mereka yang berpendidikan SMA/sederajat, diikuti perguruan tinggi, kemudian SMP/sederajat.

Hal tersebut terjadi karena umumnya pemuda dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi memiliki daya tawar untuk memilih-milih pekerjaan, dengan mencari pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan maupun sesuai dengan penawaran gajinya.

Sementara itu, mereka yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah akan menerima segala macam pekerjaan yang bisa memberi mereka penghasilan.

Lebih banyaknya pemuda pengangguran berpendidikan SMA/sederajat ke atas ini menunjukkan adanya fenomena pengangguran terdidik di kalangan pemuda. Hal ini bisa menjadi potensi jika dikelola dengan baik, namun juga bisa menjadi masalah bila dibiarkan begitu saja.

Di era industri 4.0 ini perkembangan teknologi semakin pesat yang bisa mempermudah semua orang dalam mengakses informasi yang bisa membuka wawasan untuk menciptakan sebuah peluang usaha baru.

Saat ini muncul startup–startup yang berstatus unicorn di Indonesia yang merupakan buah dari inovasi pemuda-pamuda yang jeli memanfaatkan peluang yang tidak lepas dari internet.

Pada tahun 2018 sebanyak 73,27 persen pemuda Indonesia mengakses internet. Artinya sebagian besar pemuda Indonesia melek internet. Hal ini merupakan sebuah potensi besar jika bisa dikembangkan lebih maksimal sehingga bisa bersaing dengan untuk mendukung pembangunan.

Pemuda di DIY

Piramida penduduk DIY merupakan piramida expansive dengan jumlah penduduk usia muda lebih banyak dibandingkan penduduk usia lanjut.

Jumlah pemuda di Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2018 diperkirakan sebanyak 891,2 ribu atau 23,4 persen dari total penduduk DIY (3.8 juta).

TPT pemuda DIY sebesar 10,68 yang berarti dari setiap 100 angkatan kerja pemuda, terdapat sekitar 10 pemuda yang tidak bekerja dan sedang mempersiapkan usaha atau mencari pekerjaan. Angka ini sedikit lebih rendah dari TPT pemuda Indonesia.

Dari sisi penggunaan internet, hampir semua pemuda DIY pada tahun 2018 mengakses internet (94,06 persen). Hal ini didukung dengan keterangan dari Kominfo yang menyatakan bahwa hampir semua wilayah DIY telah terjangkau oleh internet.

Dengan infrastruktur yang mendukung dan tersedianya sumber daya manusia yang melek internet, peluang – peluang untuk terus maju akan terbuka lebar jika pemuda-pemuda kita mampu memanfaatkannya. Siapkah pemuda kita menghadapi perkembangan jaman?

Supriyadi, ASN BPS Gunungkidul.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar