Berlibur di Yogyakarta, dari Pantai Krakal, Malioboro hingga Candi Borobudur

  Jumat, 20 September 2019   Abdul Arif
Pemandangan Pantai Krakal, Gunung Kidul, Yogyakarta. (dok)

AYOYOGYA.COM-- Hai guys, aku mau berbagi pengalamananku selama backpackeran di daerah yang sangat kental dengan budaya dan orang-orang ramahnya. Yups betul sekali, kota itu bernama Yogyakarta. Jujur awalnya aku tuh gak suka jalan-jalan. Mungkin karena selama zaman sekolah aku sering tidak mendapat izin untuk bermain seperti temanku yang lain. Belum lagi saat lulus SMK, aku mendapat pekerjaan yang cukup menyita waktu. Yasudahlah jadinya kuper, ha ha ha. 

Awal aku backpackeran karena diajak sobatku yang sedang galau waktu itu. Untuk mengobati kegalauan itu akhirnya aku setuju saat dia mengajakku pergi ke kota Yogya. Saat itu kebetulan aku sudah pindah bekerja ke tempat yang waktunya lebih fleksibel. Kebetulan juga aku sama sobatku sekarang kerja di tempat yang sama. Setelah mendapatkan orang untuk menggantikan kami bekerja di klinik, kami memutuskan untuk berlibur selama empat hari. 

Saat itu kami berangkat dari Stasiun Kiaracondong menggunakan kereta api kahuripan menuju stasiun Lempuyangan. Harga tiketnya sekitar Rp 80.000 dengan jam keberangkatan pukul 18:10 dan sampai lempuyangan pukul 02:10. 

Saat itu kita hampir saja akan ketinggalan kereta karena jalanan yang macet serta kita membeli tripod dadakan untuk kebutuhan fotografi. Setelah sampai di parkiran kami langsung berbegas untuk mencetak tiket. Namun karena ini pertama kalinya kita naik kereta api, saat itu kami bingung bagaimana cara mencetak tiket tersebut. 
Akhirnya kita meminta petugas di sana untuk membantu kami. Bukannya mendapat sambutan hangat, kami malah di tertawakan oleh petugas itu dan dikatai kuper. Hemmm, rasanya saat itu kami sangat kesal sekali. 

Setelah tiket kami dapat, kami langsung berlari menuju kereta yang berada di jalur tiga. Hampir saja kita terlambat, namun Alhamdulillah saat itu kereta pergi telat beberapa menit. Setelah menemukan kursi kami langsung duduk dan menyimpan barang bawaan kami di atas. 
Saat keberangkatan sebenarnya kondisi kami sedang tidak fit. Sobatku sedang kena flu dan aku sendiri juga flu, ditambah sehari sebelumnya aku keserempet motor dan bagian kakiku dekat ibu jari terluka sedikit dalam. 
Namun karena sayang jika tiket kereta hangus, akhirnya kami memaksakan diri untuk tetap pergi. Ditemani dengan satu botol You C 1000 kami berharap flu kami segera sembuh.

Selama perjalanan sebenarnya aku sedikit kesal dengan sobatku yang terus memikirkan mantan pacarnya. Padahal kan kami berlibur untuk menyegarkan pikirannya yang belum bisa move on. 
Sudah beberapa kali aku paksa dia untuk tidur dan jangan bermain ponsel terus. Namun dia tidak mendengarkanku, yasudah aku memilih tidur saja untuk memulihkan kesehatanku.

Sekitar dua jam berlalu, aku terbangun oleh suara hahah.. hihihhi ibu ibu sosialita entah ibu ibu yang alay,,,, hahahaha. Sepanjang perjalanan mereka tak berhenti bersuara, ah pokoknya sangat mengganggu sekali. 

Kereta yang dijadwalkan sampai pada jam 02:10, agak terlambat 20 menit.

Setelah sampai di stasiun tempat pertama yang kami tuju adalah kamar mandi. Saat itu kami hanya mencuci muka, menggosok gigi dan menggunakan sunblock. Hahahah ala..ala backpacker yang gak mau ribet. Melihat jam masih menunjukan pukul 03:00, kami memutuskan untuk beristirahat dan menunggu salat subuh di musala. 

Saat itu kami belum memiliki tujuan wisata yang jelas, sambil searching di google akhirnya sobatku menemukan Pantai Krakal yang ada di Gunung Kidul. Tanpa berpikir panjang aku menyetujuinya saja, yang penting sobatku bisa melupakan mantannya itu. Hahahaha niat banget sihh. 

Kami berada di stasiun Lempuyangan sampai pukul 05:30, akhirnya kami langsung menuju malioboro untuk mencari sarapan dan sewa motor. 

Dari stasiun kami menggunakan grab mobil menuju tempat tujuan. Wahh sesampainya di sana aku speechless melihat suasana di malioboro. Begitu banyak tukang jualan yang menjajakan sarapan, ada juga yang berjualan koran, jamu dan ada juga yang sedang duduk santai. 

Kami berputar-putar mencari tukang gudeg, namun sepertinya belum ada yang buka. Akhirnya kami memutuskan untuk sarapan soto khas Yogya. Satu porsi berisi bihun, toge muda dan kuah yang sedikit kuning kami santap dengan kerupuk. Luar biasa nikmat pokoknya.

Ditemani secangkir teh hangat dan alunan musisi jalanan. Membuat suasana semakin memesona. Sebelum pergi kami tak lupa meminta tolong orang yang lewat untuk memfoto kami berdua. 

Sekitar pukul 07:00 kami mendapat informasi dari bapak yang akan menyewakan motornya akan segera datang. Tidak berapa lama akhirnya kami bertemu, sambil menyerahkan uang dan kartu mahasiswa asli sebagai syarat. Kami mendapatkan sewa motor itu seharga 60K yang berdurasi 24 jam. Kami menyewa motor selama dua hari. Kamipun langsung bergegas menuju Pantai Krakal. 

Baru saja beberapa meter, bensin sudah habis. Kamipun mencari tukang bensin eceran dan mengisi full tank untuk berjaga-jaga agar tidak kehabisan bensin di tengah jalan. 

Kami berangkat ke Pantai Krakal mengandalkan google maps dan google people alias bertanya pada warga sekitar. Perjalanan menuju pantai sangat jauh sekali, sampai google maps pun tak bisa menjangkau semuanya. 

AYO BACA : Menuju Satu Data Jagung

Di beberapa jalan kami membicarakan suasana Yogja mirip dengan jalan yang ada di Bandung. Di sana pun kami menemui pasar barang-barang bekas seperti di pasar Astana Anyar. Aku merasa kasihan pada sobatku yang menyetir motor selama perjalanan. 

Hal itu terjadi karena aku tidak bisa mengendarai motor, alhasil dia menjadi korbannya. Ahahhaha jahat sekali. 

Entah sudah berapa puluh kilometer kami menempuh perjalanan dan mulai kehilangan sinyal. Akhirnya kami memutuskan untuk bertanya pada warga sekitar. Saat itu kami melihat ada dua orang nenek yang sedang membawa kayu kering. Kamipun menghampiri mereka, belum juga sempat bertanya, kedua nenek itu langsung berlari. 

Karena bingung kami susul mereka dan berusaha tetap bertanya. Satu orang nenek mau berhenti meski terlihat agak ketakutan. Setelah aku melihat ke arah spion, aku baru sadar, bahwa aku dan sobatku masih menggunakan masker. 
Akupun meminta sobatku untuk membuka maskernya. Nenek itupun sedikit terlihat lega dan kembali memanggil temannya dengan bahasa Jawa. Meski begitu kedua nenek itu sudah sedikit memberikan informasi dan kita pun mengucapkan terimakasih. Sepanjang perjalanan kami tertawa terbahak-bahak membayangkan kembali kejadian tadi. 

Setelah berlanjut lagi, kami mulai agak bingung akan lewat mana saat menemui persimpangan. Akhirnya kami kembali menggunakan google people. Yups di sebuah halte kami bertemu dengan dua orang pria berumuran 30 tahun. Yang mengejutkannya ternyata mereka adalah orang Bandung yang sedang merantau. 
Saat itu kami berasa bertemu dengan saudara, tanpa canggung kami bertanya sedetail mungkin dan mengucapkan rasa terima kasih. Saat akan sampai menuju pantai, kami berpapasan dengan beberapa bus besar. Sedikit menakutkan karena di kanan kiri jalan tidak ada pembatas dengan kondisi jalan yang berkelok dan sempit. 

Hampir saja saat itu kami mau tertabrak, karena berusaha mendahului bus. Sampai-sampai kami dimarahi oleh sang sopir dengan Bahasa Jawa. Bukannya minta maaf kami malah langsung pergi karena tidak mengerti dengan apa yang mereka ucapkan. 

Ada rasa takut, deg-degan sekaligus ingin mentertawakan tingkah kami berdua. 

Seperti hidup, perjalanan yang begitu sulit dan butuh perjuangan kami terbayar sudah oleh pemandangan pantai yang luar biasa indah. Ombak yang cukup tenang dengan warna biru muda yang begitu memukau sangat memanjakan mata kami berdua. Tak henti ucapan syukur kami panjatkan kepada Sang Maha Pencipta.

Sesampainya di sana kami langsung mencari makan dan mandi. Wajar saja kami kan belum mandi seharian itu. Setelah badan sudah bersih, kami langsung bergegas menuju tebing untuk berswafoto dan menikmati pemandangan dari atas. Sungguh menakjubkan Pantai Krakal ini, semoga menambah iman kita dalam hati ucapku saat itu.

Setelah puas, meskipun sebenarnya belum. Kami langsung bergegas menuju Candi Borobudur dengan harapan mendapat sunset. Namun setengah perjalanan, kami google people lagi ternyata kata warga sekitar, jarak ke magelang masih sangat jauh. Badan kami yang sudah lelah, akhirnya menepi untuk beristirahat dan salat asar di sebuah masjid. 

Saat itu kami hampir tertidur karena kelelahan, namun setelah mendengar suara adzan kami terbangun. Kami bingung, perjalanan ke magelang masih jauh. Di perjalanan kami memikirkan plan B. Tak berapa lama hujan turun dengan deras dan kami meneduh di sebuah warung nasi padang. Perut yang keroncongan membuat kami langsung masuk ke dalam dan menyantap hidangan yang ada di sana.

Hujan turun cukup lama, sampai pada akhirnya kami memutuskan untuk tetap pergi dengan menggunakan jas hujan. Setengah perjalanan sudah kami tempuh, hari sudah mulai gelap. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari penginapan saja di daerah malioboro. Namun sobatku memilih tempat lain, karena dia pikir pasti di malioboro akan penuh. Aku sedikit kesal padanya saat itu, kenapa harus menyimpulkan seperti itu padahal kita belum mengecek. 

Hujan yang semakin deras membuat tubuh kami basah kuyup. Tak berapa lama kami menemukan penginapan. Aku sangat senang, namun sobatku masih merasa belum cocok katanya tempatnya seram. Akhirnya kami membatalkan dan mencari tempat baru. Di jalan banyak joki yang menawarkan tempat, akhirnya kami ditunjukannya. Setelah masuk ke kamar terdapat ornamen khas Jawa pada aksesoris kamar. Lagi-lagi sobatku bilang kalau tempat itu seram. Padahal saat itu kami sudah kedinginan. Ditambah kondisi kakiku yang luka semakin perih terkena air kotor yang tergenang di jalan. 

Kamipun ditunjukkan lagi ke tempat yang ketiga yang berada di lantai tiga. Namun sobatku ini masih belum mau juga. Aku semakin kesal dibuatnya. Sampai pada akhirnya kami menemukan tempat yang lebih seram dari yang tadi menurutku. Akupun memberanikan diri untuk memutuskan menginap di situ saja. Hari yang sudah malam membuat aku semakin mengantuk. Aku tau sobatku tidak setuju menginap di situ, namun jika terus mencari sampai malam pasti kami akan masuk angin. 

Sesampainya di kamar aku langsung mandi dan tidur. Sedangkan sobatku memilih untuk tetap bermain ponsel. 

Malam itu kami tidak berbicara sepatah katapun. Kami berdua merasa kesal kepada satu sama lain. Sampai pada akhirnya pukul 03.00 dini hari kami bangun dan mandi. Setelah itu kami memutuskan untuk saling bertanya dan memilih segera meninggalkan tempat itu. 

Sekitar pukul 04.00 kami keluar. Baru juga beberapa kilo di jalan ada yang memberi tahu kami bahwa ban belakang kami bocor. Momen ini sering terjadi kalau sobatku sedang bersamaku. Mungkin karena badanku yang gemuk kali yah. hahahahaha. Saat ada orang yang memberi tahu, kami tidak langsung menggubrisnya. 

AYO BACA : Wow Terjadi Deflasi pada Februari 2019

Akhirnya setelah beberapa meter ban motor kami benar-benar bocor. Kamipun harus mendorong motor. Tak berapa lama kami menemukan sebuah indomaret untuk sejenak beristirahat. Di sana kami melihat bertemu pasangan yang sedang mengobrol, dengan memberanikan diri kami menanyakan tempat tambal ban yang buka di pagi buta itu. 

Alhamdulillah dia dengan baik hati mencarikan tempat tambal ban.  

Namun setelah kami menunggu, akhirnya Mas itu membawa kabar bahwa belum ada tambal ban yang buka. Mas itu tidak berhenti sampai di sana. Dia mencoba mencari info di facebooknya. Akhirnya dia memberikan sebuah kontak. Dia menyarankan kami untuk mencari tukang tambal ban yang bisa dipanggil ke tempat. Alhasil ingin mendapatkan sunrise pun tidak kami dapat, karena tukang tambal ban baru beroperasi pada jam tujuh pagi. 

Sekitar 30 menit, ban motor kami kembali baru. Kamipun melanjutkan perjalanan. Tidak lupa kami ucapkan terimakasih pada Mas yang sudah membantu kami. 

Kami melanjutkan perjalanan menuju Candi Borobudur. Sekitar dua jam lebih dari pusat kota, kamipun sampai tujuan. Matahari sudah naik, hingga cuaca sudah terasa sangat panas di jam 9 pagi. Sebelum masuk area kami memutuskan untuk berfoto terlebih dahulu. 

Di sepanjang jalan menuju candi kami ditawari berbagai oleh-oleh suvenir. Ada topi, gantungan kunci, asbak, kaos dan masih banyak. Ternyata di sana tak jarang kami menemui pedagang yang berasal dari Bandung. Bahkan saat menawar baju pun kami bertemu dengan seorang backpacker dari kota Bogor. Usianya sudah ada 28 tahunan, namanya Bu Ria, ternyata dia liburan sendiri. 
Wah aku semakin takjub dengannya. Kami berpisah saat akan masuk ke area Candi. 

Sebelum masuk kami membayar tiket seharga Rp 36.000. Hal yang sangat menyebalkan adalah kami tidak boleh membawa makanan bungkus. Sehingga makanan ringan kami disita oleh petugas. Begitu masuk sudah terdengar jelas suara gamelan khas Jawa. Kamipun ditawari naik semacam mobil kecil dengan biaya Rp 10.000. Sesampainya di area candi kami langsung mengabadikan bangunan bersejarah itu.

Hari itu pengunjung sangat ramai sekali. Wajar sih, kan lagi weekend. Kami langsung menaiki anak tangga untuk sampai ke atas. Suasana di atas sangat ramai sekali, sampai mau mengambil foto candipun agak sulit. Di sana ada banyak penjaga yang memperingatkan pengunjung agar tidak membuang sampah, merokok dan berfoto di atas candi. 

Selain wisatawan lokal ternyata di sana kami banyak menemui wisatawan dari luar negeri. Jadi tak hanya bule yang ada di Bali aja ya guys. 

Sekitar lima belas menit kami berputar-putar. Tak disangka kami bertemu lagi dengan Bu Ria. Hahaha kami saling menyapa dan berfoto bersama.

Cuaca di sana sangat panas sekali. Jadi kami memutuskan untuk kembali turun ke bawah. Namun sebelum turun kami ditawarkan oleh seorang penjaga untuk berfoto ala panorama. 

Setelah turun kami berpisah dengan backpacker asal Bogor. Kami langsung bergegas kembali menuju Stasion Lempuyangan. Sebelum keluar area candi, kami dihadang oleh semua pedagang yang menawari oleh-oleh. Kami hampir kalap dan hanya tersisa uang untuk sekitar Rp 50.000 untuk membeli makan siang. 

Sesampainya di area stasiun kami mengembalikan motor sewaan dan membeli sebungkus nasi berisi daging ayam sambal dan sayur seharga Rp 8.000. Jadi bagi kalian yang backpackeran ke Yogya jangan khawatir tidak bisa makan karena di sana harganya serba murah, enak dan banyak.

Pukul 14.10 kami langsung naik kereta Pasundan dengan harga tiket sekitar Rp 80.000. Dengan seabreg oleh-oleh yang sungguh merepotkan. Saat pulang kami sebangku dengan mahasiswa Jawa yang kuliah di Bandung. Bukannya berkenalan kami malah merasa canggung dengan mereka. Saat pulang keadaan di kereta tak sebising saat pergi, jadi kami bisa beristirahat dengan nyaman. 

Satu hal keisengan sobatku adalah mengambil fotoku yang sedang tidur.

Setelah kurang lebih 9 jam berada di dalam kereta, akhirnya kami sampai Bandung dengan selamat. Pukul 23.30 kami langsung meluncur pulang ke kosanku yang ada di daerah Kebon kopi Cibereum.

Menurutku perjalanan itu sangat unik. Kita bisa mengenali diri kita plus orang yang berjalan bersama kita. Perjalanan adalah tentang berbagi dan meredam keegoisan. Membuka cakrawala tentang budaya dan keindahan alam. Serta nilai plusnya bisa merenungi ayat-ayat Allah melalui Ciptaan-Nya.

-Diaz Azhari, Backpacker

AYO BACA : Membangun Masyarakat Gunungkidul Berkualitas

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar