Pendidik Diminta Tak Hanya Orasi di Kelas

  Kamis, 05 September 2019   Abdul Arif
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta(DIY) Sri Sultan HB X (kanan) menerima sertifikat gelar doktor honoris causa (HC) dari Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Sutrisna Wibawa (kedua kiri), saat penganugerahan gelar doktor HC di Auditorium UNY, Sleman, DI Yogyakarta, Kamis (5/9/2019). Sri Sultan HB menerima gelar doktor HC dalam bidang Manajemen Pendidikan Karakter Berbasis Budaya dari UNY. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/ama.

YOGYAKARTA, AYOYOGYA.COM-- Peran pendidik dituntut tidak hanya mentransfer ilmu atau sekadar berorasi di depan kelas dalam menyiapkan siswa menghadapi tantangan kompetisi di era Revolusi Industri 4.0. 

Demikian kata Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X saat menyampaikan orasi ilmiah dalam acara penganugerahan gelar doktor honoris causa (HC) Bidang Manajemen Pendidikan Karakter Berbasis Budaya di Auditorium Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Kamis (5/9/2019).

"Satuan pendidikan harus menyiapkan kompetensi yang diperlukan dalam menghadapi Industri 4.0," katanya.

Sebagai pendidik, menurut Sultan, harus memiliki tanggung jawab untuk membawa siswanya bertahan pada kehidupan yang akan datang dengan skill masa depan karena Revolusi Industri 4.0 muncul dengan menekankan pembaruan serba teknologi.

AYO BACA : Solat Istisqo Awali Pendistribusian Air untuk Warga Bandung Barat

Sultan mengatakan Revolusi Industri 4.0 atau Revolusi Industri Generasi ke empat menitikberatkan pola digitalisasi dan otomasi di semua aspek kehidupan manusia.

Sayangnya, ia menilai saat ini banyak pihak yang belum menyadari akan adanya perubahan tersebut terutama di kalangan pendidik.

"Padahal semua itu adalah tantangan generasi muda atau generasi milenial saat ini yang harus dibimbing dan diarahkan oleh para pendidik kita," kata Sultan.

Skill masa depan yang perlu dimiliki para siswa menghadapi pembaharuan serba teknologi, menurut dia, di antaranya mencakup pola digital economy (digitalisasi ekonomi), artificial intelligence (kecerdasan buatan), big data (data dalam skala besar), robotic (pemakaian robot sebagai tenaga kerja).

AYO BACA : 15 Sanggar Seni Ramaikan Festival Kesenian Sleman 2019

Oleh sebab itu, lanjut Sultan, menghadapi Revolusi Industri 4.0, para pendidik saat ini dituntut untuk mampu melahirkan subjek didik yang terus menjadi manusia pembelajar.

"Tentunya pola pendidikan Jadoel, kini menjadi kurang relevan untuk diterapkan pada generasi sekarang yang terkena dampak langsung Revolusi Industri 4.0," kata Sultan yang Raja Keraton Yogyakarta ini.

Tanggung jawab para pendidik, menurut dia, juga diperlukan mengingat dampak dari Revolusi Industri 4.0 diprediksi akan menghilangkan beberapa jenis pekerjaan karena digantikan sistem komputerisasi atau digital.

Sultan menyebutkan berdasarkan studi yang dilakukan oleh McKinsey Global Institute di 46 negara, ditemukan bahwa lebih dari 800 juta pekerjaan akan tergantikan dengan adanya automasi.

"Hal ini menjadi tantangan dari para generasi muda dan lembaga pendidikan ke depan. Karena itulah sistem pendidikan juga harus mampu menyesuaikan dengan kondisi ini," kata Sultan.

AYO BACA : Pansel Sampaikan Tiga Nama Calon Sekda Yogyakarta 9 September

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar