18 Simpang Jalan di Kota Yogyakarta Membutuhkan Normalisasi

  Rabu, 28 Agustus 2019   Rizma Riyandi
Ilustrasi (Antara)

KOTA YOGYAKARTA, AYOYOGYA.COM--Berdasarkan hasil kajian terhadap kondisi simpang jalan di Kota Yogyakarta, diketahui sebanyak 18 titik simpang membutuhkan normalisasi sebagai salah satu langkah yang bisa ditempuh untuk mengurangi potensi kepadatan lalu lintas.

“Normalisasi dilakukan dengan menyempurnakan bentuk simpang atau mengurangi hambatan lain sehingga kendaraan bisa berbelok dengan lancar. Harapannya, tidak terjadi antrean kendaraan yang cukup panjang,” kata Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta Windarto di Yogyakarta, Rabu (28/8/2019).

Menurut dia, jumlah 18 titik simpang yang membutuhkan normalisasi tersebut merupakan hasil kajian yang dilakukan Dinas Perhubungan pada tahun ini dan pada tahun sebelumnya terdapat 15 titik simpang yang membutuhkan normalisasi.

Windarto mengatakan seluruh hasil kajian terkait titik simpang yang membutuhkan normalisasi sudah disampaikan ke Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Yogyakarta sebagai instansi yang memiliki kewenangan untuk melakukan pekerjaan fisik.

“Kami sebatas melakukan kajian. Sedangkan untuk pelaksanaan pekerjaan fisik jika dilakukan normalisasi sepenuhnya menjadi kewenangan DPUPKP Kota Yogyakarta,” katanya.

Salah satu simpang yang dinilai mendesak untuk dilakukan normalisasi adalah simpang sisi utara Stadion Kridosono yang terletak di sekitar kantor Telkom Yogyakarta.

Normalisasi dibutuhkan karena kondisi simpang tidak mendukung kelancaran arus lalu lintas terlebih volume kendaraan yang melintas di lokasi tersebut cukup padat. Kepadatan akan meningkat jika dilakukan sistem buka tutup menuju Jalan Malioboro.

“Arus kendaraan dari utara maupun barat cukup padat. Tetapi kondisi simpang relatif sempit sehingga menyebabkan antrean kendaraan yang cukup panjang. Untuk normalisasi, masih muncul perdebatan mengenai status bangunan apakah masuk cagar budaya atau tidak. Termasuk taman sebagai devider jalan,” katanya.

Selain pekerjaan fisik, upaya untuk mengantisipasi kepadatan lalu lintas bisa dilakukan dengan cara melakukan pengaturan rambu lalu lintas di antaranya memanfaatkan aturan belok kiri jalan terus.

“Jika kondisi infrastruktur tidak memungkinkan, maka bisa dilakukan menggunakan pendekatan aturan. Misalnya belok kiri jalan terus. Itu pun jika 20 persen kendaraan yang melintas memang belok ke kiri. Jika tidak, maka harus sesuai isyarat lampu lalu lintas,” katanya.

Windarto menambahkan Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta juga terus memperbanyak jalan searah, salah satunya Jalan Jagalan yang ditetapkan satu arah dari selatan ke utara mulai pekan ini. Sebelumnya Jalan Wijilan juga diubah searah khusus untuk roda empat dari utara ke selatan.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar