BPBD Kulonprogo Akan Bentuk 3 Desa Tangguh Bencana

  Jumat, 19 Juli 2019   Rizma Riyandi
Iludtrasi

KULONPROGO, AYOYOGYA.COM--Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, akan membentuk tiga desa tangguh bencana atau destana guna mempercepat pencegahan dan penanganan potensi bencana di wilayah tersebut.

Kepala Pelaksana BPBD Kulonprogo Ariadi mengatakan di wilayah itu berpotensi terjadi bencana, mulai dari banjir, kekeringan, angin kencanga, dan gempa serta tsunami.

Mengenai hasil pemetaan potensi bencana di Kulonprogo, ia menjelaskan wilayah rawan longsor ada di Kecamatan Kalibawang, Samigaluh, Girimulyo, Kokap, sebagian Nanggulan dan Pengasih. Wilayah rawan bencana gempa dan tsunami ada di Kecamatan Galur, Panjatan, Wates dan Temon.

Kemudian, wilayah potensi bencana angin kencang di Sentolo, Nanggulan, Girimulyo, dan Panjatan. Selanjutnya, wilayah berpotensi bencana kekeringan, yakni Kokap, Girimulyo, Samigaluh, Kalibawang, Nanggulan, sebagian Pengasih, Sentolo, Lendah dan Panjatan.

"Hampir 12 kecamatan berpotensi terjadi bencana dengan karakteristik masing-masing. Untuk itu, kami membentuk destana dengan harapan masalah potensi bencana dapat ditangani dengan cepat dan warga mengetahui tindakan yang dilakukan bila terjadi bencana," kata Ariadi.

Ia mengatakan hingga saat ini, di Kulonprogo sudah terbentuk 37 destana dari 88 desa/kota yang tersebar di 12 kecamatan. Pembentukan tiga destana itu direncanakan akan dimulai sejak bulan ini sampai September nanti.

"Anggaran yang disiapkan Pemkab Kulonprogo dalam pembentukan tiga destana tersebut berasal dari APBD," katanya, Jumat (19/7/2019).

Sementara itu, Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kulonprogo Happy Eko Nugroho mengatakan seluruh desa di Kulon Progo potensi terjadi bencana, mulai dari banjir, tanah longsor, hingga tsunami.

BPBD Kulonprogo memberikan pelatihan dan sosialisasi supaya tanggap terhadap potensi bencana di lingkungannya secara bertahap dan kemampuan keuangan daerah. Pada 2019 ini, BPBD kolaborasi dengan BPBD DIY akan membentuk tiga desa tangguh bencana.

Biaya yang dibutuhkan untuk membentuk satu desa tangguh bencana sebesar Rp10 juta. Biaya tersebut digunakan untuk biaya enam kali pertemuan, pemetakaan risiko bencana dan membuat peta bencana desa, forum penanganan bencana dan pembuatan jalur evakuasi. Kalau sampai simulasi anggarannya di atas Rp20 juta.

Saat ini, BPBD Kulonprogo sedang mengupayakan supaya pemerintah desa mengalokasikan anggaran penanganan bencana melalui dana desa. Bencana menjadi tanggung jawab semua pihak, BPBD hanya menangani dan mengkoordinir ketika ada bencana.

"Anggaran pembentukan desa tangguh bencana hanya cukup untuk enam kali sosialisasi, berbeda dengan anggaran dari BPBD DIY," katanya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar