Tingkat Hunian Rusunawa Capai 99%

  Rabu, 17 Juli 2019   Rizma Riyandi
Ilustrasi--Warga beraktivitas di Rusunawa KS Tubun, Tanah Abang, Jakarta, Selasa (25/6/2019). Gubernur Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta Anies Baswedan segera meresmikan 12 rumah susun (rusun) yang tersebar di wilayah ibukota pada Agustus 2019, yaitu Rusunawa BLK Pasar Rebo, Rusun Nagrak, Rusun Rorotan, Rusun Semper, Rusunawa K.S Tubun, Rusun Rawa Buaya, Rusun Pulogebang, Rusun Penggilingan, Rusun Pulogebang, Rusun Rawa Bebek, Rusun Pengadegan, dan Rusun Tegal Alur. ANTARA FOTO/Galih Pradipta

SLEMAN, AYOYOGYA.COM--Tingkat hunian rumah susun sederhana sewa (sewa) untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang dibangun Pemerintah Kabupaten Sleman di lima lokasi saat mencapai 99 persen yang didominasi pasangan muda dan masih ada antrean sekitar 400 pemohon.

"Di Sleman terdapat lima rusunawa, dua ada di Gemawang, Dabag, Mranggen, dan Jongke. Saat ini tingkat hunian mencapai 99 persen, dan mayoritas penghuni rusunawa adalah pasangan muda," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Rusunawa Sleman Panut Suharto di Sleman, Rabu (17/7/2019).

Menurut dia, dari lima rusunawa di Sleman belum semua dipasarkan. Sebab, masih ada pengembangan rusunawa terkait fasilitas hunian. Kemungkinan akhir 2019 bisa dipasarkan.

"Satu rusunawa di Gemawang belum dipasarkan. Masih ada penambahan lahan parkir, selain itu sarpras di sekitar rusunawa belum mendukung," katanya.

Ia mengatakan, tingkat keterhunian di empat rusunawa sudah mencapai 99 persen, dari 1.057 unit ada 1.020 unit yang terisi dan masih ada 400 orang yang mengantre untuk bisa menempati rusunawa.

"Antrean untuk bisa masuk di Dabag ada 250 antrean, Gemawang sekitar 50 orang, Jongke 50 orang. Kalau ditotal ada sekitar 400 orang," katanya.

Panut mengatakan, mayoritas yang menghuni rusunawa adalah pasangan muda. Karena dengan penghasilan yang masih pas-pasan mereka masih kesulitan untuk mendapatkan hunian.

"Masih banyak masyarakat di Sleman belum memiliki rumah. Kebanyakan pasangan baru. Mungkin karena ingin punya rumah sendiri, 40 persen pasangan muda yang menghuni rusunawa," katanya.

Ia mengatakan, banyaknya peminat rusunawa juga karena murahnya harga sewa per bulannya yakni sekitar Rp160 ribu hingga Rp417 ribu dan jangka waktu sewa rusunawa bisa diperpanjang hingga lima tahun, atau maksimal enam tahun.

'Syaratnya harus ber KTP Sleman, termasuk dalam kategori MBR dan sudah berkeluarga," katanya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kabupaten Sleman Sapto Winarno mengatakan meski minat masyarakat terhadap rusunawa sangat tinggi, namun Pemkab Sleman belum berencana menambah atau membangun rusunawa lagi.

"Belum ada rencana pengembangan dalam waktu dekat. Kami masih menunggu koordinasi dengan kementerian," katanya.

Ia mengatakan, selain itu keterbatasan lahan juga menjadi kendala. Sehingga pihaknya juga masih mencari solusi terbaik untuk permasalahan tersebut.

"Sebenarnya ada beragam solusi untuk bisa menyediakan hunian murah bagi masyarakat. Kami juga sedang mengembangkan rumah bersubsidi," katanya.

Sapto mengatkan, pihaknya juga terus mengembangkan atau meningkatkan fasilitas di rusunawa.

"Pada 2019 ini kami segera memasang meteran listrik untuk masing-masing kamar. Tahun depan kami memang belum membangun tapi kalau pengembangan tetap kami lakukan," katanya.
Tingkat hunian rumah susun sederhana sewa (sewa) untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang dibangun Pemerintah Kabupaten Sleman di lima lokasi saat mencapai 99 persen yang didominasi pasangan muda dan masih ada antrean sekitar 400 pemohon.

"Di Sleman terdapat lima rusunawa, dua ada di Gemawang, Dabag, Mranggen, dan Jongke. Saat ini tingkat hunian mencapai 99 persen, dan mayoritas penghuni rusunawa adalah pasangan muda," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Rusunawa Sleman Panut Suharto di Sleman, Rabu.

Menurut dia, dari lima rusunawa di Sleman belum semua dipasarkan. Sebab, masih ada pengembangan rusunawa terkait fasilitas hunian. Kemungkinan akhir 2019 bisa dipasarkan.

"Satu rusunawa di Gemawang belum dipasarkan. Masih ada penambahan lahan parkir, selain itu sarpras di sekitar rusunawa belum mendukung," katanya.

Ia mengatakan, tingkat keterhunian di empat rusunawa sudah mencapai 99 persen, dari 1.057 unit ada 1.020 unit yang terisi dan masih ada 400 orang yang mengantre untuk bisa menempati rusunawa.

"Antrean untuk bisa masuk di Dabag ada 250 antrean, Gemawang sekitar 50 orang, Jongke 50 orang. Kalau ditotal ada sekitar 400 orang," katanya.

Panut mengatakan, mayoritas yang menghuni rusunawa adalah pasangan muda. Karena dengan penghasilan yang masih pas-pasan mereka masih kesulitan untuk mendapatkan hunian.

"Masih banyak masyarakat di Sleman belum memiliki rumah. Kebanyakan pasangan baru. Mungkin karena ingin punya rumah sendiri, 40 persen pasangan muda yang menghuni rusunawa," katanya.

Ia mengatakan, banyaknya peminat rusunawa juga karena murahnya harga sewa per bulannya yakni sekitar Rp160 ribu hingga Rp417 ribu dan jangka waktu sewa rusunawa bisa diperpanjang hingga lima tahun, atau maksimal enam tahun.

'Syaratnya harus ber KTP Sleman, termasuk dalam kategori MBR dan sudah berkeluarga," katanya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kabupaten Sleman Sapto Winarno mengatakan meski minat masyarakat terhadap rusunawa sangat tinggi, namun Pemkab Sleman belum berencana menambah atau membangun rusunawa lagi.

"Belum ada rencana pengembangan dalam waktu dekat. Kami masih menunggu koordinasi dengan kementerian," katanya.

Ia mengatakan, selain itu keterbatasan lahan juga menjadi kendala. Sehingga pihaknya juga masih mencari solusi terbaik untuk permasalahan tersebut.

"Sebenarnya ada beragam solusi untuk bisa menyediakan hunian murah bagi masyarakat. Kami juga sedang mengembangkan rumah bersubsidi," katanya.

Sapto mengatkan, pihaknya juga terus mengembangkan atau meningkatkan fasilitas di rusunawa.

"Pada 2019 ini kami segera memasang meteran listrik untuk masing-masing kamar. Tahun depan kami memang belum membangun tapi kalau pengembangan tetap kami lakukan," katanya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar