Era Milenial, Potensi Kerajinan Rajut Masih Besar

  Senin, 15 Juli 2019   Adi Ginanjar Maulana
Beberapa perajin sedang merajut.(Ayosemarang)

SEMARANG, AYOYOGYA.COM--Merajut adalah kegiatan mengaitkan benang wol dengan menggunakan jarum khusus untuk membuat syal, topi, tas dan lain sebagainya. Kreatifitas perajut dalam kerajinan ini bahkan bisa membuat kain rajut memiliki nilai jual tinggi.

Kerajinan rajut sampai saat ini masih memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan. Memasuki era modern, pemasaran kain rajut bisa dilakukan di media sosial, yang tak menutup kemungkinan dapat membuka pintu ekspor ke banyak negara.

Salah satu perajut asal Bendan Duwur, Sampangan, Semarang, Pungky Tri Wahyuni, mengakui kerajinan tangan rajut sedang kembali hits dan digandrungi berbagai kalangan, dari anak muda hingga dewasa. Ia menuturkan, dalam membuat kerajinan rajut, diperlukan kesabaran yang tinggi.

"Memang harus sabar, ulet, nggak cepat bosan. Karena satu kerajinan rajut saja butuh waktu tiga sampai satu minggu. Tergantung tingkat kesulitannya. Kalau tas itu bisa sampai satu minggu," ujarnya kepada Ayosemarang.com, Minggu, (14/7/2019).

Pungky mengakui, kerajinan yang dia buat kerap mendapat pesanan baik dari dalam kota maupun luar kota. Barang seperti tas, syal, topi, tatakan gelas menjadi barang yang banyak dipesan oleh konsumen.

"Yang pesan banyak, mulai dalam kota maupun luar kota. Beberapa kali saya juga dapat pesanan dari luar negeri. Kemarin dari Korea, Jepang, dan Singapura. Di sana yang dipesan itu syal, Tatakan gelas, tas juga ada," ucapnya.

Penggunaan media sosial tampaknya dirasakannya sangat tepat untuk memasarkan produk rajutnya dengan cara online. Melalui media sosial, ia mendapatkan pangsa pasar yang lebih luas.

"Pemasaran dari mulut ke mulut juga. Teman ke teman. Kalau masalah harga terjangkaulah, kisaran Rp300.000-600.000. Jadi enggak mahal mahal. Tergantung kerumitanya," ungkapnya.

Pungky menceritakan, ia telah belajar merajut dari kecil. Namun karena kesibukan, dia lantas tidak melanjutkan kegiatan merajutnya. Pada 2015, ia mulai memiliki keinginan untuk kembali merajut. Berawal dari hobi, saat ini ia telah menjadikan merajut sebagai pendapatan utamanya.

"Dulu itu saya diajar guru SD saya. Saat itu kan ada mata pelajaran hasta karya. Kok saya suka. Tapi karena kesibukan dan belum fokus, jadinya baru tahun 2015 mulai lagi," terangnya.

Tak hanya menghasilkan barang kerajinan rajut, Pungky saat ini pun rajin membagi ilmu merajutnya ke orang lain. Bahkan, dia pernah diundang ke Papua dan mengajarkan merajut di sana.

 "Saya juga ngajar di rumah, banyak ibu-ibu yang datang ingin belajar ngerajut. Ngajar di Lapas juga pernah. Pokoknya bagi-bagi ilmu lah. Slogan saya The Power of Nyahnyoh (memberi dengan ikhlas)," katanya seraya tertawa.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar