Warga Yogyakarta Ingin Berpindah dari Kegaduhan Politik

  Senin, 01 Juli 2019   Rizma Riyandi
Ilustrasi Malioboro

KOTA YOGYAKARTA, AYOYOGYA.COM--Gegap gempita Pemilu Presiden 2019 telah berlalu. Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai pengadilan konstitusi tertinggi di Indonesia pun telah ikut merampungkan sengketa hasil pilpres yang sempat menjadi ganjalan masyarakat Indonesia.

Warga Yogyakarta juga segera menutup episode pesta demokrasi yang sempat membelah mereka menjadi dua kubu.

Bagi warga Yogyakarta, munculnya putusan MK patut disyukuri sebagai momentum melepaskan berbagai atribut politik untuk kemudian melebur kembali, mewujudkan persatuan bangsa.

"Sekarang warga 01 dan 02 sudah tidak ada yang ada adalah persatuan Indonesia. Jangan ada 'panas-panasan' lagi," kata warga Kelurahan Bausasran, Kota Yogyakarta, Suci Astuti (61), seusai mengikuti acara Syukuran Budaya Pemilu Damai di kawasan Malioboro, Minggu (30/6/2019) sore.

Amat disayangkan, ucap dia, apabila masyarakat masih belum bisa beranjak dari dinamika politik 01 dan 02.

Baginya, sekarang sudah saatnya "move on" (berpindah) dari kegaduhan politik, untuk bersama-sama berkontribusi memajukan Indonesia yang kaya akan seni dan budaya.

Berbagai elemen warga Yogyakarta, mulai dari seniman, budayawan, hingga tokoh lintas agama menggelar tasyakuran karena dinamika politik Pilpres 2019 telah dilalui bersama.

Selain doa lintas agama, tasyakuran yang berlangsung di trotoar Jalan Malioboro itu, juga diartikulasikan dengan orasi budaya, "flashmob", serta beragam pertunjukan seni yang menarik perhatian para wisatawan di kawasan sentra wisata belanja di Yogyakarta itu.

Aktivis Gerakan Persatuan Indonesia Widihasto Wasana Putra berharap acara tasyakuran mampu menyebarkan pesan moral tentang persatuan dan perdamaian pasca-Pilpres 2019 dari Yogyakarta.

Perbedaan pilihan politik harus segera disingkirkan dan saatnya memajukan Indonesia sebagaimana amanat konstitusi, yakni melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin sebagai presiden dan wakil presiden terpilih, diharapkan mampu merangkul seluruh komponen rakyat, tanpa terkecuali.

Masyarakat yang sebelumnya berbeda pilihan politik dengan Jokowi harus dirangkul dan diberi ruang yang sama untuk bersama-sama membangun bangsa.

Pimpinan Gereja Baciro Yogyakarta Pendeta Antonius Edi Prasetyo optimistis polarisasi karena perbedaan pilihan politik di tengah masyarakat sejatinya sudah mulai hilang.

Polarisasi yang sempat muncul, ujar dia, tidak murni berasal dari masyarakat di akar rumput, melainkan dibangun oleh para elite politik yang sarat dengan kepentingan.

Setelah MK memutus sengketa pilpres, masyarakat sudah harus ikhlas dan percaya bahwa sistem hukum di Indonesia telah berjalan dan dilaksanakan dengan baik, serta mengakui bahwa pelaksanaan pemilu kemarin telah terselenggara dengan jujur dan adil.

Apalagi, banyak pengamat dari dalam dan luar negeri yang telah menyatakan sulit menemukan kecurangan pada pesta demokrasi kemarin.

Pilpres merupakan rutinitas politik yang wajar dilaksanakan setiap lima tahun sekali. Oleh sebab itu, baik pihak yang kalah maupun yang menang dalam kontestasi itu seyogianya kembali bahu membahu dengan mengutamakan persatuan sebagai sesama anak bangsa.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar