Yamaha Mio S

Cara Menanggulangi Halitosis

  Rabu, 15 Mei 2019   Rizma Riyandi
Ilustrasi Halitosis

JAKARTA, AYOYOGYA.COM--Halitosis atau bau mulut bisa sangat mengganggu dan membuat seseorang jadi tidak percaya diri. Agar halitosis bisa benar-benar hilang, ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan.

Bila dijumpai penyakit periodontal dan karies gigi, maka perlu segera memeriksakan diri ke dokter gigi. Memastikan kebersihan dan perawatan mulut dan gigi adalah elemen terpenting dalam tatalaksana halitosis.

Strategi lainnya berupa: mengurangi mikroorganisme, menggunakan produk penyegar mulut, netralisasi kimiawi VSC. Gaya hidup yang ditekankan: berhenti merokok, hindari produk tembakau, dan tidak memakai pasta gigi baking soda.

Ada fakta menarik dan unik. Meskipun terdapat penurunan jumlah bakteri dengan menggosok gigi, beberapa studi tidak berhasil menemukan perbedaan atau korelasi antara kebiasaan gosok gigi dan halitosis.

Terapi antimikrobial untuk mengurangi proteolitik, flora anaerob di permukaan lidah. Sikat lidah (tongue scraper) dan penyegar mulut antimikroba (antimicrobial mouth rinse, AMR) dapat digunakan. Klinisi merekomendasikan AMR berupa klorheksidin (CHX), triklosan, minyak esensial, setilpiridinium klorida (CPC), agen oksidasi dan ion-ion logam. Propolis dapat digunakan untuk mengatasi halitosis.

Standar emas CHX diterima untuk tatalaksana halitosis. Kombinasi penggunaan CHX dan CPC mereduksi jumlah bakteri aerob dan anaerob, serta menurunkan kadar VSC.
Selain itu, mengonsumsi probiotik Lactobacillus salivarius WB 21 dapat membantu mengendalikan faktor-faktor terkait halitosis.

Studi in vivo melaporkan bahwa obat kumur mulut (klorheksidin), mengandung ekstrak pericarp Garcinia mangostana L., secara signifikan mengurani kadar VSC pada pasien gingivitis.

Studi RCT selama empat minggu menunjukkan bahwa Hyangsa-Pyeongwi san (herbal China) dapat meredakan halitosis serta meningkatkan kualitas hidup pasien dengan dispepsia fungsional.

Berdasarkan perspektif kedokteran China, halitosis bermula dari retensi uap (lembab), api (panas) di mulut, lambung, liver, limpa, di mana semuanya terkoneksi sebagai satu-kesatuan. Keseimbangan adalah kunci penyembuhan. Untuk mewujudkannya, diperlukan herbal China yang bersifat "dingin". Misalnya: Coptis chinensis, Lonicera japonica, Scutellaria baicalensis, rhizoma zingiberis.

Farmakologi modern berhasil membuktikan bahwa Coptis chinensis memiliki kandungan antibakteri, antitoksin, antiulser, dan mengurangi asam lambung. Lonicera japonica berefek kuat terhadap VSC dan fungsi bakteriostasis pada halitosis terkait bakteri anaerob.

Scutellaria baicalensis memiliki efek terhadap iNOS, COX2, NF-kappa-B, dan berbagai sitokin inflamasi, seperti: IL-1beta, IL-2, IL-6, IL-12, and TNF-alfa.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar