Yamaha Aerox

Akankah Sepak Bola Indonesia Semanis Jantuh Cinta?

  Kamis, 03 Januari 2019   Adi Ginanjar Maulana
Ilustrasi sepakbola

Saat kecil, sebelum tahu sepak bola terkait dengan komoditas, pengaturan skor, dan sengkarut lainnya, saya selalu bahagia menonton aksi para pemain di lapangan. Salah satunya Ronaldinho.

Pemain asal Brazil ini seperti tak ada tujuan lain selain membahagiakan dirinya dan orang lain lewat sepak bola. Seperti lelaki pemalu yang jatuh cinta kepada perempuan di kampung tetangga. Ia rela berjalan jauh dari rumah, terguyur hujan, dan bahagia tak kepalang ketika hanya menatap jendela kamar pujaannya. Ia rela gemetar kedinginan dan berlama-lama di depan rumahnya. Dan pujaannya tak perlu tahu ia lakukan itu untuknya.

Tujuannya bukan untuk bertemu dengan perempuan yang terus berputar di kepalanya, tapi untuk tiba saja di depan rumahnya. Dan itu cukup. “Goal”-nya hanya itu. Tak ada yang lain.

Mungkin sama seperti suporter yang rela berutang kepada tetangga untuk datang ke stadion. Di stadion, ketika tim kebanggaannya menang, pemain idolanya melambaikan tangan kepada semua pendukung. Si suporter itu tidak perlu pemain idolanya mengenalnya, karena tujuannya bukan itu. Ia hanya ingin meyakinkan kepada mereka, apapun yang terjadi, ada tubuh dan doanya yang menyertai mereka berlaga.

Mungkin juga sama seperti tukang bakso di luar stadion. Ia tidak takut rugi jika ada pembeli yang tidak membayar. Ia rela, asalkan tenaga pembeli itu dicurahkan untuk mendukung tim kesayangannya menang. Bakso itu menjadi wakil dari pedagangnya yang tetap harus bekerja.

Hanya itu yang mereka tuju. Tak ada yang lain. Tak ada sandiwara.

Di tahun 2019 ini, saya berdoa agar sepak bola di negeri ini bisa membahagiakan semua. Tidak seperti seorang kekasih yang ternyata diselingkuhi dan dikuras tenaga dan hartanya. Itu terlalu keji. Terlalu dangkal seperti sinetron.

Saya pun berharap, persoalan sepak bola di negeri ini tidak sepanjang kalimat ini atau episode sinetron tukang bubur itu. Semoga secepatnya selesai dan bisa berganti dengan kisah yang baru.

Semoga tidak ada peristiwa janggal dan hukuman penonton dilarang ke stadion. Sebab ini bukan hanya soal dukungan. Ada perputaran ekonomi di sana. Ada tukang bakso, cuanki, jersey, asongan, dan lain-lain yang menggantungkan hidupnya dari berjualan di stadion. Anda bisa bayangkan kekhawatiran  keluarganya di rumah dalam memandang hari esok? Semoga mereka mendapat banyak rezeki.

Saat ini, polisi dan pihak terkait sedang menyelidiki kasus-kasus sepak bola Indonesia. Kita serahkan kepada mereka. Semoga mereka amanah dan menyelasaikan kasus  ini segera.

Di samping itu, saya ingin membagikan kenangan—yang barangkali pernah dialami juga oleh pembaca semua ketika kecil, ketika bermain bola masih gratis seperti jatuh cinta.

AYO BACA : Ayo Bersatu demi Sepak Bola yang Lebih Baik

Kenangan ini barangkali bisa menyegarkan pikiran kita setelah banyaknya kasus di dalam sepak bola.

1. Lahan kosong = lapangan bola

Sebelum lahan berkurang dan lapang-lapang mulai disewakan, saya dan teman-teman selalu bermain di lahan kosong milik tetangga.

2. Sandal, batu, atau kayu = gawang

Saat itu, tidak perlu gawang besi. Hanya perlu sandal, batu, atau kayu untuk membuat tiang gawang kanan dan kiri. Tidak perlu tiang gawang atas. Gol yang ditendang ke gawang bagian atas keputusannya masih didasarkan pada perasaan.

3. Sepatu tidak wajib

Kami bermain tidak perlu pakai sepatu karena kami tidak bertujuan saling melukai. Saat kaki beradu, kami hanya tertawa, mengusap kaki masing-masing, lalu bermain kembali.

4. Tidak ada pelanggaran kecuali handball

Kalian pasti mengalaminya. Tidak ada pelanggaran kecuali handball. Tak hanya itu, tidak ada pula kartu kuning dan kartu merah. Dan wasit untuk para pemain adalah pemain itu sendiri.

5. Kalau pemain haus boleh pulang dulu

Lahan kosong milik tetangga saya lokasinya sentral. Bagi mereka yang haus, bisa pulang dulu. Tak jarang, mereka membawa teko untuk dibagikan kepada teman-teman yang lain.

AYO BACA : Kongkalikong Mafia Pengatur Skor Sepak Bola di Indonesia

6. Skor pertandingan bisa sampai puluhan

Kami jarang menghitung skor karena terlalu bahagia.

7. Tugas kiper: mencegah kebobolan dan mengambil bola yang melenceng jauh

Selain itu, biasanya kiper diisi oleh anak yang usianya lebih muda. Alasannya, yang lebih tua ingin lebih banyak berlari dan tidak mau mengambil bola yang melenceng jauh.

8. Jika pemilik bola pulang, pertandingan selesai

Jika pemilik bola pulang, kami pun pulang. Tak ada yang marah karena belum terpuaskan.

9. Jika selisih gol terlalu banyak, kedua tim akan bertukar pemain

Hal ini dilakukan agar permainan seimbang dan lebih menyenangkan.

10. Strategi dan formasi: keroyokan

Saat itu, tidak ada formasi 4-4-2 atau 3-5-2 yang penting kami berlari dan menendang bola.

11. Azan magrib = peluit panjang tanda berakhir pertandingan

Kami pulang, mandi, dan salat berjamaah di Masjid.

Deden Indra

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar